Dream, Believe, and Make It Happen

Sabtu, 9 Juni 2012

Tekadku sudah bulat untuk mendaki merapi malam ini. Sudah sejak awal aku tinggal di Jogja aku memang sudah berniat pokonya sebelum lulus, aku harus ndaki gunung paling aktif di dunia itu. Abang Jayus yang sangat baik hati itu bersedia menemaniku, menjadi guideku untuk mewujudkan keinginanku ini. Mas Chandra yang belum pernah mendaki Merapipun ingin ikut serta, namun dia masih galau, sepertinya aku bisa menebak apa yang membuatnya ragu, hehehe… Kekasihnya, Mba Sasa,  sudah mendapat restu dari sang ibu untuk mendaki gunung sebagai hadiah karena dia sudah wisuda. Yang pacarnya Mas Chandra tuh Mba Sasa, tapi kalau naik gunung, malah aku yang bukan pacarnya yang diajak, hanya karena Mba Sasa tak pernah boleh mendaki gunung oleh ibunya, berbeda dengan aku, yang malah emakku yang pengen ikut aku ndaki gunung tapi sama aku ngga boleh, hehehe….

Kali ini sepertinya Mas Chandra berniat ingin mewujudkan impian Mba Sasa yang pengen banget mendaki gunung dari dulu itu. Tapi mungkin karena ini pertama kalinya, Merapi pula, bukan gunung yang cukup ramah untuk pemula. Sepertinya Mas Chandra terjebak diantara pilihan dia sendiri sangat ingin ke Merapi karena belum pernah, dan sekarang mumpung ada kesempatan, dan antara ragu apakah dia akan mengajak kekasihnya itu atau tidak. Tapi sepertinya dia menutupinya dengan alasan, cuaca sedang tidak terlalu bersahabat. Yah, aku akui memang beberapa hari ini mendung, namun tidak hujan. Tapi menurutku tak masalah. (Tapi aku hanya menduga-duga lho, Mas Chan, Mba Sa, sorry yow kalau dugaanku salah, :D)

Sekitar jam 4 sore kucoba bertanya ke Mba Sasa apakah jadi ikut ke Merapi atau tidak. Dan jawabannya adalah, “Ngga tahu, mas Chan masih belum pasti, nanti nunggu mpe jam 5 katanya”. Sesungguhnya aku sedikit takut dengan jawaban barusan. Takut kalau mereka berdua ngga jadi, itu berarti aku cuma berdua donk. Dan aku sesungguhnya ragu, bukannya aku takut diapa-apain sama Bang Jayus, tapi mungkin karena aku belum pernah saja mendaki hanya berdua, kalau ada apa-apa, ntar siapa donk yang nolongin?

Jam 5 Mas Chandra sudah datang ke Beskre, kalau diliat dari gaya berpakaiannya sih dia sepertinya sudah siap mendaki. Tapi dia masih belum juga berkata ya, jadi naik padaku. Jadi aku masih tetap was-was. Jam 6 Bang Jayus sudah sampai di bskre. Kubiarkan Mas Chan dan Bang Jay bercakap-cakap di teras. Meskipun aku di dalam nampak santai menonton tv, sesungguhnya aku masih was-was. Duh, jadi ngga ya,..jujur aku sedikit tidak rela kalau sampai tidak jadi. Mendaki merapi sudah cita-citaku dari dulu, aduh, jangan sampai ngga jadi donk.

Mas Chandra memanggilku. Deg, semoga kabar baik yang aku terima. Dia menyurh aku dan Mba Sa bersiap-siap. Yeeee! dalam hati aku sangat senang, tapi tidak kutunjukan rasa bahagiaku saat itu. Asik..asik..merapi..merapi…yeyeyeye, lalalalala, hahaha, aku terlampau senang!

Jam, 7 Bang Jay yang katanya hanay sebentar mau mengambil perlengkapan di sekre hancala, masih belum nongol juga. Aku was-was lagi, aduh..jangan sampai Mas Chan kehilangan mood terus ngga jadi ndaki deh. Setengah 8, masih belum keluar juga batang hidung Bang Jay. Dag..dig..dug..yap, jam delapan kurang 15 dia nongol.

Setelah mengecek semua persiapan, pakai sepatu, berangkat deh. Kami berempat siap menjajaki Merapi. Akhirnya, tempat ketiga yang harus aku kunjungi sebelum lulus hampir tercapai. Aku memang punya keinginan, pokoknya sebelum lulus aku mesti ke Parangtritis, Taman Pintar, dan Merapi. Semua terwujud begitu saja, tanpa direncanakan. Parangtritis, waktu itu si Bli Bravo yang mengajaku ke sana, karena dia tahu keinginanku, dan dia berusaha mewujudkannya. Terang saja, waktu itu kan dia dalam rangka pdkt, hihihi….. Lalu Taman Pintar, itu juga tak disengaja. Saat itu aku memang sedang mencari part time, karena aku sudah banyak nganggurnya, karna kuliah yang sudah mau berakhir. Kutahu lowongan itu dari Mba Sasa yang dulu pernah bekerja di sana juga. Akhirnya, aku menjejakan kaki ke dalam Taman Pintar juga, karena aku memang harus seleksi wawancara di sana. Memang sih pada akhirnya aku ngga keterima di sana, menurutku itu karena satu hal, aku tidak mau terikat kontrak. Aku kan niatnya nyari part time, sedangkan ini, ada kontrak 6 bulan. Wah, dah  keburu wisuda saya. Yasudah, saya relakan saja, tak apa, aku jadi bisa mendaki Rinjani bulan depan. Bayangkan kalau aku keterima, terus dapat jatah masuk tiap hari, bisa gatot rencanaku ke Lombok. Tuhan memang sangat baik dan sangat pengertian :). Intinya, aku sudah pernah masuk Taman Pintar, gratis pula, hehe.

Jalur yang kami pilih untuk mendaki adalah jalur Selo, masuk kabupaten Boyolali. Padahal kalau dilihat dari letaknya, mau ke Merapi paling dekat ya lewat jalan kaliurang itu, tinggal lurus mpe mentok. tapi ternyata dugaanku salah, lewat Jogja mau lewat mana, lewat kali kuning yang dah jadi sungai abu itu? Atau malah lewat Kinahrejo yang juga sudah jadi padang pasir? Ah, dasar bodoh…

Perjalanan via motor menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Sampai sana, waow..basecamp dipenuhi oleh pendaki. Tak kusangka, ternyata banyak sekali orang yang ingin menjajal  Merapi padahal kan semua orang tahu kalau Merapi itu salah satu gunung paling aktif di  dunia. Mungkin karena ini malam minggu kali ya. Mungkin kalau hari-hari yang lain tidak akan seramai ini.

Empat gelas kopi pesanan kami tiba. Badan yang sedari tadi kedinginan, tapi kupaksakan  untuk tidak memakai jaket polarku untuk menyesuaikan dengan suhu di sana,   kini menjadi lebih hangat. Kulihat beberapa pendaki sudah mulai bersiap mendaki. Banyak diantara  mereka berasal dari Jogja. Ada yang mahasiswa, ada yang entah dari organisasi mana. Dan lumayan banyak ceweknya, yah meskipun perbandingannya 2 banding 10. Tak masalah, bagiku ndaki merapi itu sesuatu yang sangat keren.

Pukul 00.30 di depan basecamp kami berdoa sebelum memulai perjalanan kami. Yup,   langkah pertama, di jalan beraspal, bersiap begadang sampai pagi! Merapi, go go go!

Hal paling penting dalma mendaki adalah jangan pernah memaksakan diri. Yang namnaya mendaki itu, menikmati keindahan ciptaan Tuhan, jadi santai saja, berjalan kaki sesuai kemampuan. Step by step, perlahan, tapi pasti. Itu akan jauh lebih menghemat tenaga lan ra mekso. Di jalan kami bertemu dengan banyak pendaki lain yang tidak kami temui di  basecamp. Beberapa diantara mereka adalah orang asing. Wajar, Merapi kan cukup terkenal di dunia gara-gara sering meletus.

Pemandangan dari atas sini sangat indah. Merbabu nampak megah di hadapan kami. Sebuah titik kulihat bergerak di atas Merbabu, yang sepertinya cahaya senter pendaki. Di kaki Merbabu kami juga melihat lampu-lampu rumah penduduk. Lampu-lampu itu seperti membentuk beberapa huruf, yang jika diandai-andaikan pakai imajinasi kita, seperti bertuliskan L O V E (hanya imajinasi :D).

Kami sampai di pos pertama. Entah jam berapa saat itu. Kami berhenti sejenak untuk    sekedar minum kopi panas untuk melepas lelah. Baru kali ini aku inum kopi rasa strawberry. Bang Jay yang membawanya. Dia bilang dia mendapatkannya dari seorang teman yang bapaknya kerja d kepolisian. Kalau kata bang Jay, itu namanya ransum, terdiri dari makanan kaleng, biskuit, dan kopi. Mungkin itu semacam multivitamin, karna yah aku akui lumayan ngefek, malam itu aku sama sekali tidak mengantuk dan aku merasa sehat, meskipun udara sangat dingin dan tenaga kami terkuras habis.

Tidak ada target harus sampai puncak atau tidak, pokoknya kerjakan semampu kita. Seperti di awal, alon-alon asal kelakon, ngga usah ngoyo. Jam setengah 5 pagi kami sampai di pasar bubrah. Pos terakhir sebelum puncak. Dari sini puncak Merapi sudah sangat dekat, kita bisa melihat puncaknya dengan jelas. Bagiku sudah mencapai sini sudah luar biasa mengingat medan yang lalui kami tadi cukup berat bla dibandingkan dengan gunung-gunung yang   pernah aku daki sebelumnya. Dengan medan yang sagta miring, dan berbatu, ini sudah cukup memuaskanku. Tapi tetap saja dalam hatiku, aku tidak akan berhenti sebelum mencapai puncaknya.

Pasar bubrah. Bayanganku base camp biasa, tanah datar dan luas, bisa buat ngecamp. Tapi kenyataanya, pasar bubrah jauh lebih luas dari bayanganku, dan tanahnya memang datar,   tapi berbatu dan aku baru kepikiran, terus ndiriin tendanya dimana, kalau berbatu, ngga bisa buat tidur donk. Sakit pastilah ini badan kalau tidur di atas batu. Entahlah, nyatanya banyak tenda di situ, berarti mungkin pintar-pintarnya kita cari tempat yang ngga banyak batunya.

Kami berhenti di sebuah tugu batu sebagai peringatan dulu ada pelajar SMA (aku lupa nama dan jumlah orangnya) pernah meninggal di sini. Beberapa ratus meter di depan tempat kami berdiri sekarang aku bisa melihat warna-warni tenda para pendaki. Sangat banyak pendaki yang ada di sini. Lebih banyak dari yang aku temui di basecamp semalam, dan ini    mengingatkanku saat mendaki Lawu dulu. Gunung yang sangat membuatku terheran-heran karena puncaknya sudah seperti pasar saja, sampai ngga muat karna saking banyaknya. Hal   itu yang membuatku menjudge bahwa Lawu adalah gunung wisata. Tidak perlu jadi anggota pecinta alam untuk bisa mendakinya. Mungkin karena ini malam minggu, yah mungkin   begitu.

Kami putuskan untuk stay di sini sampai fajar tiba. Kami gelar matras tepat di depan tugu, lalu kami duduk di situ, memandang panorama alam yang tidak semua orang bisa melihatnya. Tepat di depan kami berdiri megah gunung Merbabu. Merapi dan Merbabu memang bertetangga. Dan kini aku berada diantara keduanya. Matahari mulai muncul di timur sana. Aku bisa melihat dengan jelas awan putih yang ada di bawahku menutupi lembah Merbabu dan Merapi. Amazing. Hanya itu yang bisa kukatakan. Memang bukan kali pertama aku berada di atas awan, namun ada kepuasan tersendiri aku ada di sini. Sekali lagi kukatakan, karena ini Merapi. Namun sayang, sepertinya di bawah sedikit mendung, sehingga sunrise yang kami harapkan tak bisa terlihat sempurna.

Menanti fajar yang tak kunjung datang

Mendung, tak bisa melihat fajar dengan sempurna

Jam 7 pagi, diputuskan bahwa Mba Sha dan Mas Chan cukup sampai di sini, tidak ingin muncak. (Menurutku sebetulnya Mas Chan kepingin, tapi karena dia khawatir dengan Mba Sha, akhirnya dia putuskan untuk tetap di pasar bubrah, tapi itu hanya menurutku, hehe). Hanya aku dan Bang Jay, tidak, lebih tepatnya aku yang memutuskan untuk muncak. Bang Jay kan ngikut aku, karna dia kan tugasnya memang nganterin, jadi kalau tamunya minta diantar sampai puncak, ya dia harus mau. Padahal dia juga baru ke sini seminggu yang lalu, biarlah toh Bang Jay nya tidak keberatan :D.

Sesungguhnya dalam hati aku tidak yakin apa aku bisa. Ngliat medan menuju puncaknya itu lho, hi…lumayan ngeri. Miring banget dan terjal euy! Tapi niatku sudah bulat, pokoknya aku harus sampai puncak. Setidaknya niatku itu yang memberikan spirit bahwa aku bisa.

15 menit pertama. Saya masih baik-baik saja. 15 menit kedua, aku mulai memperlambat langkahku. Takut salah injak, karna batu-batu yang ada di situ gampang runtuh, beberapa kali aku harus menghindari guguran batu dari pendaki yang ada di atas kami. Aku berhenti di sebuah batu, kubalikan badanku, memandang jauh ke bawah jalan yang sudah kulalui tadi. “Bang, kalau salah injak trus jatuh, sakit kali ya?” iseng-iseng aku bertanya. Dia hanya menjawab “Ngga akan aku biarin kamu ngrasan jatuh”. “Habisnya ngliat jalan yang sudah dilewati tadi, horor banget, hiii…” kataku. Dia hanya tersenyum.

“Udah yuk lanjut” dia mengajakku lanjut. Bisa dibilang perjalanan menuju puncak ini setengah climbing. Ya itu tadi alasannya, miring. Beberapa kali aku merangkak karena takut salah injak. Kalau aku bingung batu mana yang harus aku injak, aku akan mempersilahkan Bang Jay untuk di depan, biar dia bisa bantuin aku naik.

Puncak semakin dekat, sangat dekat, tapi kok ngga nyampe-nyampe. Aduh, aduh, mana jalannya makin sulit lagi. Sedikit lagi, yup. Puncak. Jadi ini puncak Merapi? Hmm…sepertinya aku tidak ingin lama-lama di sini. Puncaknya sangat sempit, tapi memanjang, tapi ngga panjang-panjang amat. Lebarnya mungkin hanya sekitar setengah meter. Dari tempatku berdiri, tepat di bawahku, kawah Merapi mengeluarkan asap belerang di beberapa titik. Kawah yang pernah memuntahkan lahar dan wedhus gembelnya, sehingga memakan korban hingga lebih dari seratus orang. Menakjubkan, aku bisa berada di puncaknya, memandang secara langsung kawah dari gunung api teraktif di dunia ini. Sebetulnya aku ingin ke sisi lain puncaknya, namun karena sudah dipenuhi oleh pendaki lain. Ya apa boleh buat, daripada nanti sempit-sempitan terus jatuh, hii..ngeri aku mbayanginnya.

Puncak

Menikmati sebatang coklat monggo sembari mengamati kawah merapi

Hanya sekitar setengah jam kami berada di puncak. Puas mengambil foto, kami putuskan untuk turun. Setengah perjalanan turun kami buat lebih santai. Beberapa kali kami berhenti hanya untuk mengobrol. Setengahnya lagi, kita memalui jalur yang berbeda dengan waktu berangkat tadi. Kami lewat jalur yang ada di sebelahnya. Kalau tadi medannya berbatu, yang ini pasir. Murni pasir. Awalnya aku ragu, aduh, kalau pasir jangan-jangan nanti lebih gampang lagi jatuhnya. Tapi Bang Jay meyakinkanku bahwa itu aman, bahkan lebih aman dari jalur kita berangkat tadi. Dia memulai langkahnya di depanku. Ya, nampak mudah dan menyenangkan, tapi kau masih tetap ragu. Kuikuti langkahnya, masih ragu, dan sedikit takut, lama kelamaan kupercepat langkahku. Aku mulai bisa menikmati alur jalan ini. Ternyata, ini cukup meyenangkan, hahaha…meskipun aku masih pelan-pelan jalannya, tapi ini sungguh menyenangkan, mungkin seerti walking moon, hahaha.

 

Mumpung dapat sinyal, sempatkan telfon Mas Budi dulu ah

Akhirnya kami berdua sampai juga di Pasar Bubrah lagi. Aku bisa melihat kalau Mba Sasa dan Mas Chandra pasti bosan menunggu kami yag tak kunjung turun. Salah siapa ngga ikut muncak 😀

Usai makan segelas nata de coco, kami packing, lalu kami turun. Sebelum kutinggalkan Pasar Bubrah, kupandangai puncak Merapi beberapa saat. Aku tersenyum, Merapi, kau sungguh gagah, dan aku puas aku sudah mencapai puncakmu. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Aku janji aku akan kembali ke sini suatu saat nanti.

Foto dulu sebelum turun (full team)

Merbabu menjadi saksi sudah berhasil kucapai puncak merapi

Kami turun. Ternyata turun tidak seenak mendaki. Kalau mendaki tantangannya harus kuat kaki, nah kalau turun ngga cuma kaki, tapi juga harus tahan sama udaranya. Puanaassnya puoll… Tapi tak apalah setidaknya di siang hari aku bisa melihat pemandangan di sekitarku.

Pendakian perdanaku ke Merapi berakhir sudah. Sebelum motor kami meluncur meninggalkan basecamp, kupandangi lagi puncaknya yang mulai tertutup kabut. It’s great.

Cerah

Jalan berbatu

Lumayan, ada rumput bisa buat ngadem dikit

Kursi santai

Nikmatnya nata de coco usai turun

Aoizora

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s