思い #part 4

Sabtu, 22 September 2012

Tomoki, pertama kali aku melihatnya di sayonara party di rumah Shimizu sensei. Dia duduk di sebelah Mas Fuad di sebrangku. Saat itu aku belum tahu namanya, aku hanya melihatnya,   dan tidak terlalu  memperhatikannya. Saat pulang dari rumah Shimizu sensei, aku pulang dibonceng sama Mas Fuad. Di jalan, dia cerita kalau si Tomoki ini ngajakin dia untuk nongkrong. Dia baru saja tiba di Jogja sekitar tiga minggu yang lalu. Mas Fuad nawarin aku, kalau mau besok ikut aja. Aku mengiyakan saja ajakannya, lumayan kenalan nihonjin baru, hehe…

Besoknya, kami nongkrong di warung kopi Semesta. Ternyata, ngga cuma Mas Fuad, aku dan Tomoki saja. Jam 7 malam, Mas Fuad menjemputku, dan dia datang dengan Sota juga. Lalu beberapa saat setelah kami memesan minuman, datanglah Mas Rizki, Mas Aji, dan Syerra. Kami di situ mengorol banyak hal. Dan dari situ juga, aku tahu kalau ternyata Tomoki itu usianya 27 tahun, dan sedang menenempuh S3. Dia sedang melakukan penelitian di  Indonesia, jurusannya adalah pertanian, dan selama di Indonesia, dia kuiah di fakultas pertanian IPB dan UGM. Hebat sekali, masih semuada itu sudah lagi S3. Tapi, itu hal biasa sih di Jepang, yah, maklum negara maju, orang-orangnya semangat buat belajar dan terus  belajar. Tapi, orang model Tomoki ini, pastilah tidak pernah memikirkan secara serius untuk hal cinta. Benar saja, dia selama di Indonesia belum kemana-mana, kerjaannya belajar mulu. Dia sebelum ke Jogja, sudah sempat beberapa buan tingga di Bogor, dan dia belum pernah ke Taman Safari, hhh.. kasihan amat satu orang ini. Kebetulan lagi, besok kami satu kelas akan pergi ke pantai, kuajak saja  dia, kasihan belum pernah jalan-jalan selama di Jogja dia.

Sedikit demi sedikit aku mulai mengenal Tomoki. Dan hal paling membuatku senang adalah  dia suka ndaki gunung juga! Dia adalah mapala di universitasnya. Lumayan nih, punya kenalan bule pinter, ganteng (mmm…yang jelas lebih ganteng dari si Sei, :D), dan seorang pendaki!   Dia mengaku sudah 30 kali mendaki gunung di Jepang. Wah, ngga bisa dianggap remeh nih orang. Padahal, kesan pertamaku saat melihat dia adalah nih orang kalem banget, pasti kerjaannya cuma belajar mulu tiap hari. Ya itu emank bener, tapi kalau dia seorang mapala, aku perlu heran. Badannya kecil, kurus kayak begitu, rada bungkuk lagi, wah, mbayangin dia mbawa carrier aja udah kasihan. Emank bener istilah “Don’t judge book from the cover” .

Kebetulan lagi (kok sering banget yah kebetulannya, jodohkah? :D) Bang Jay mengajakku untuk naik Merapi lagi, kebetulan juga aku emnak lagi free, lumayan nih ada kesempatan ke sana lagi. Kebetulan, hari jumat itu, si Sei mengajak kami untuk makan malam bersama, tapi menu khas Indonesia. Kupikir menunya beli, ternyata, hhhh….. saya didaup sebagai  juru masaknya. So, yah..saya sangat-sangat sibuk dan lelah di hari itu. Ku sms lah si Tomoki, kuberitahu tentang acara makan malam itu dan skalian kuajak dia buat naik, tapi apa daya,  aku tak beruntung, rupanya ada orang yang mendahuluiku. Ada seseorang yang mengajaknya naik gunung sumbing di hari yang sama! Dan yang membuat aku unbelievable lagi, yang  ngajak itu Mba Ageng. Hahhh????Seriuss nih??? Mba ageng yang wanita sekali dan lemah gemulai itu, mau naik gunung? Wah, aku langsung negatif thinking aja, ni pasti ada modus   lain nih, Mba Ageng kan ngga suka naik gunung, masa tiba-tiba mau naik gunung. Hh..hilang sudah harapanku naik gunung bareng si Tomoki. Karena aku ingin ada teman lain, maka  kuajak saja  si Rossy temen kosku yang belum pernah naik gunung sekalipun. Dan untunglah dia  bersedia.

Memang, dari   awal aku sudah merasa ganjil dengan pendakian si Tomoki ini,   benar saja,  pagi sebelum kami berangkat pada malam harinya, dia sms mengatakan bahwa dia tidak jadi ke Sumbing karena Mba Ageng sakit. (dalam hati, lagi-lagi aku negatif thinking, pasti ni cuma alasan aja,  dia pasti ngga sanggup naik gunung tuh). Dia bilang dia bisa datang ke makan malam  di rumah Sei itu. Langsung saja kubilang “kalau begitu, setelah makan malam selesai, ayo kamu ikut saya saja ke Merapi”. Dia langsung membalas sms ku dengan emot sangat senang. Yes, akhirnya jadi juga naik gunung barenga si Tomo, hihihii…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s