Natasha, Sumbi, Abenk

Kami memiliki sebuah mobil inventaris yang kami sebut dengan mobil tempur. Kenapa disebut demikian? karena memang bentuknya seperti mobil perang. Sebuah jip yang sudah sangat tua dan berkarat di sana-sini, tapi itulah yang mengantar kami kemana saja,. Dia adalah mobil yang sangat bersejarah.

Pagi ini, aku diajak ke salah satu obyek wisata yang kami kelola, yaitu Batu Mentas. Perjalanan dari Tanjungpandan sampai Batu Mentas sekitar 30 menit naik mobil tempur. Yang kusuka dari Belitung adalah jalannya. Jalannya sangat mulus, penduduknya sedikit, no traffic light, dan no macet. Sangat nyaman untuk berkendara, tapi sedikit tidak aman karena saking sepinya jalanan di sana, semua orang naik motor sedikit seenaknya sendiri, ngebut dan tidak beraturan. Tapi untunglah yang lewat di jalan raya hanya sedikit, jadi masih punya banyak space untuk berkendara sesuai aturan.

Beautiful. Kata pertama yang aku ucapkan saat sampai di Batu Mentas. Setelah beberapa tahun tidak merasakan segarnya mata air asli dari pegunungan, akhirnya aku merasakannya kembali. Tidak ada gunung tinggi di sini. Gunung tertinggi di sini tingginya hanya sekitar 500 mdpl, namanya Gunung Tajam. Hal lain yang kusukai dari Belitung adalah meskipun seluruh wilayahnya di kelilingi pantai, Belitung masih memiliki hutan yang masih asli, dan menghasilkan air murni yang sangat bersih dan segar.

Batu Mentas Ecolodge & Tarsius Sanctuary begitulah namanya, sebuah tempat konservasi Tarsius di kaki gunung tajam. Tarsius Bancanus Saltator, binatang endemik Belitung, orang Belitung menyebutnya “Palilean”, atau monyet hutan. Natasha, nama Tarsius kami. Aku baru pertama kali melihat hewan seperti ini. Hewan ini memiliki bentuk tubuh yang kecil, namun memiliki mata dan telinga yang besar sehingga  terlihat sangat besar dibandingkan ukuran tubuhnya.

Sama seperti burung hantu, dia bisa memutar kepalanya hingga 180 derajat, dan dia aktif di malam hari untuk mencari makan. Sebenarnya tidak hanya di Belitung kita bisa menjumpai Tarsius, di Sulawesi juga ada Tarsius, namun dengan jenis serta karakter yang berbeda. Karena Natasha berada di penangkaran, jadi dia tidak bisa mencari makan sendiri. Aku membantu Mas Glen memberi makan Natasha. Jangkrik adalah menu makannya setiap hari. Dulu, katanya kami memilki 8 ekor Tarsius, namun satu persatu mati, entah apa penyebabnya, sehingga kini hanya tertinggal si Natasha ini.

Selain Tarsius, ternyata Batu Mentas juga memiliki beberapa hewan peliharaan. Seekor piton betina bernama Sumbi. Saat melihatnya, aku sedikit kasihan karena entah mengapa aku melihatnya seperti terlihat sangat murung. Setiap hari berada di kandang yang sempit, aku bisa membayangkan bagaimana perasaanya. Hewan seperti itu adalah hewan liar yang semestinya berada di alam liar dan berburu mencari makanannya sendiri. Aku berharap bang Budi bisa melepaskannya lagi ke alam liar lagi suatu saat.

Sumbi

Tidak hanya ular, kami juga memelihara seekor anjing. Abenk namanya. Abeng lah yang selalu menemani para penjaga Batu Mentas di malam hari agar tempat ini tetap aman dari orang yang ingin berbuat jahat.

IMG_0079

Abenk

Si mobil tempur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s