Curug Cilember, Dimana Air Mengalir dengan Bebasnya

Rabu, 19 Juni 2013

Liburan akhir pekanku kali ini kuputuskan untuk mengunjungi sebuah curug yang ada di Cisarua, Bogor. Curug Cilember, hasil searching yang kutemukan ketika aku mengetikkan kata kunci obyek wisata di Bogor selain Taman Safari dan Puncak, dan Kebun Raya Bogor.

Tak tahu arah dan jalan, kawanpun jadi untuk dimanfaatkan. Ria, Bowo, dan Mas Isun, kawan yang akhirnya bisa kukumpulkan untuk menemaniku melaksanakan misi jalan-jalan di Bogor. Sesungguhnya merekapun baru mendengar nama curug Cilember. Mereka bukan tipe orang yang secara sengaja menyepatkan waktu sekedar untuk jalan-jalan. Bahkan Ria yang warga asli Bekasi, Bowo yang sudah dua tahun di sini, dan Mas Isun yang sudah 5 tahun di sini, tak pernah pergi ke Kebun Raya maupun Taman Safari, ckckckck…sayang sekali bukan?

Bermodalkan GPS, kami nekad berangkat pada pukul 7 pagi mengendarai sepeda motor mencari cueug Cilember. Meskipun di GPS tertulis perjalanan akan memakan waktu sekitar 1,5 jam, kenyataannya sangat jauh dari perhitungan si GPS. Dua kali pergi dengan panduan GPS, sudah cukup membuatku berkesimpulan jangan percaya 100% pada GPS. Jalur yang dia tunjukkan adalah jalur tercepat, dan jika kita benar-benar tidak tahu medan yang akan kita lewati, bersiap saja menghadapi kemungkinan terburuknya, jalan sempit dan terpelosok. Itulah yang kami alami kemarin. Satu jam perjalanan via jalan raya, GPS mengarahkan kita untuk berbelok ke kiri. Awalnya kami terpesona dengan jalan yang kami lalui. Yap, kami memasuki sebuah kawasan elit nan hijau di daerah perbukitan Bogor. Sebuah padang golf terbentang luas bak permadani hijau, dan disekelilingnya berdiri rumah-rumah mewah bak istana di negeri dongeng. Makin lama pemandangan yang kami lewati makin indah saja. Terlena, sampai tak sadar kalau jalan yang kami lewati telah salah arah. Kucek kembali GPS, kami kebablasan. Ketika kami putar balik, belokan yang tertera di GPS ternyata tidak ada di hadapan kami. Hmm…GPS ini sepertinya melakukan sedikit kesalahan. Akhirnya kami kami putuskan untuk bertanya pada orang. Dia memberitahu arah yang mesti kita lewati untuk menuju tujuan kami. Okay, dari sekarang aku harus menajamkan bakat instingku, feeling. Aku yang memegang GPS, maka aku yang menjadi guide. Tak kukatakan pada mereka kalau aku memilih jalan lain.

Jalur yang pada awalnya berupa jalan raya, semakin ke atas semakin menyempit. Kami masuk ke sebuah desa antah berantah. Tiba-tiba perjalanan kami terhambat karena kemacetan yang terjadi di depan kaim. Jalan ini begitu sempit namun kendaraan yang lewat begitu padat, mobil-mobil pribadi dan kendaraan pribadi. Puncaknya ketika kami sampai di bagian atas bukit, barulah kami tahu penyebab kemacetan ini. Ada sebuah pertunjukkan dangdut tepat berada di puncak bukit ini. Hiburan bagi para pengendara sepeda sebelum pembagian doorprize. Owh, kalau boleh kusarankan, lain kali sekalian saja diadakan lomba sepeda offroad dan pembagian doorprizenya tepat di puncak gunung!

Jalan mulai menurun, sepi, pemandangan di sekitar kami adalah jajaran villa-villa. Ada yang tepat di pinggir jalan, ada yang berada di tepi jurang. Aku hanya berpikir siapa kira-kira yang mau menyewa villa di tempat seperti ini. Pemandangan boleh bagus, tapi keamanan, hmmm….aku tak yakin. Bisa kubayangkan seperti apa sepinya jalanan ini ketika malam menjelang. Aku langsung teringat film horor yang diperankan Zaki Zimah ketika aku SD dulu. Pembunuhan yang dilakukan oleh psikopat gila di sebuah villa di daerah puncak.

Berulang kali aku menengok ke belakang apakah Bowo dan Ria masih ada di belakangku. Mereka mulai curiga denganku ketika jalan yang kami lewati tak bisa dikatakan jalan motor. Ini lebih mirip jalan setapak yang aman bagi pejalan kaki. Alih-alih aspal, ini hanyalah jalan sempit bertabur kerikil. Kami berhenti di tepi ladang, dimana pemandangan kota Bogor nampak jelas dari sini. Akhirnya Bowo mempertanyakan jalan yang aku pilih. kijawab saja benar, ini hanya potong jalan, alias jalan pintas. Kutunjukkan jalan yang baru kita lalui di GPS. Untunglah Bowo orangnya tak teliti. Dia percaya kata-kataku. Bagus, lebih baik begitu.

Satu jam terjebak di perbukitan Bogor, akhirnya kami bisa keluar dari jalanan sepi ini. Seolah tak puas mengerjai kami, alam kembali menguji kesabaran kami. Wooyooo…bukan Puncak namanya kalau tak macet, dan ini hari minggu! Perut sudah mulai keroncongan, curug Cilember tak kunjung kami temukan. Tekad kami sudah bulat, kami tak akan makan sebelum sampai di tempat tujuan kami.

Hampir 4 jam perjalanan, sampailah kami di desa Jogjogan kecamatan Cisarua. Kami semakin mendekati tempat yang kami tuju. Jalan semakin menanjak, namun kami semakin bersemangat. Semakin dekat, dan yeah akhirnya kami sampai.

Tak menunggu lama, tempat yang kami tuju pertama adalah warung makan! Sungguh nikmat makan siangku saat itu. Kami tepat berada di tepi hutan di kaki gunung. Soup, ayam goreng, dan secangkir kopi, akh… sungguh nikmat.

Kenyang, kami segera menuju pintu masuk. Harga tiketnya cukup terjangkau, Rp 13.000,00/orang. Pepohonan hijau khas hutan hujan tropis menjadi pemandangan kami, sangat sejuk. Curug Cilember terdiri dari 7 buah curug. Curug 7 ada di bagian paling bawah, dan curug 1 berada di bagian paling atas. Jarak antar curug dapat ditempuh antara 30 menit-1 jam berjalan kaki.

Yang membuatku takjub adalah meskipun obyek wisata ini sangat ramai, namun kebersihan dan kelestarian lingkungannya tetap tertaga. Tak kulihat ada sampah berserakan. Jalan dari pintu masuk hingga curug terbawah sangat rapi dan nyaman. Berjalan di sini serasa berjalan di taman hijau. Kami melewati warung-warung makan yang menjual berbagai macam menu termasuk jagung bakar, dan beberapa toko oleh-oleh. Di sekitar warung-warung juga tersedia banyak bangku untuk bersantai. Lalu kami melewati tempat penangkaran kupu-kupu.

Naik ke atas lagi, kami tiba di area camping. Bukan bumi perkemahan, namun tanah di sini sudah dipetak-petak, sengaja didesain untuk berkemah. Tak perlu khawatir jika ingin berkemah di sini jika tak memiliki peralatan camping. Di sini tersedia tenda-tenda yang sudah dipasang beserta alas tikarnya, yang siap disewakan bagi yang berminat. Naik ke ataslagi, tibalah kami di area villa. Yup,di area ini tersedia beberapa macam villa yang juga disewakan bagi pengunjung yang berminat. Semua konsep villa ini adalah back to nature, semua bangunnya tersusun dari batu dan kayu. Andai saja besok libur, kurasa aku akan memutuskan untuk mencoba menginap di sini.

Sampailah di curug 7. Karena posisinya yang paling dekat dengan pintu masuk, curug ini menjadi curug yang paling ramai pengunjung. Sesungguhnya air di sini jernih, namun karena pengungjungnya terlalu banyak, menjadi sedikit keruh karena bercampur lumpur dari kaki-kai pengunjung. Kami putuskan untuk naik lagi, menuju curug selanjutnya. Setengah jam selanjutnya, kami sudah sampai di curug 6 dan 5. Di sinipun sangat ramai pengunjung, sehingga kami memutuskan untuk naik lagi, menuju curug selanjutnya. Tujuan kami datang ke curug Cilember adalah untuk mandi-mandi dengan bebas, dan karena sepertinya curug yang selanjutnya juga masih ramai, maka kami putuskan untuk terus naik ke atas, tanpa mampir ke curug 4 dan 3. Tujuan kami adalah curug 2 atau 1. Medan yang kami lewati cukup terjal. Tanah lempung yang cukup licin dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Kami harus hati-hati agar tidak terpeleset. Sepanjang perjalanan menuju curug 2 kami tak bertemu siapapun. Sepertinya orang terlalu malas untuk melewati jalan ini. Ini menguntungkan bagiku tentu saja, karena artinya kami akan menemukan curug yang cukup sepi untuk kami bermandi-mandi ria.

Kami tiba di persimpangan jalan. Wo’o tak ada papan penunjuk ke arah mana seharusnya kami melangkah. Cabang pertama kami coba telusuri, ternyata semakin rimbun, pertanda jarang dilewati orang. Kami putuskan kembali ke titik awal. Sempat tak yakin dan hendak melanjutkan perjalanan menuju curug 1, akhirnya kami putuskan untuk mencoba menelusuri cabang yang satu lagi. Kami menemukan beberapa bungkus permen dan kami mendengar suara arus air yang kian lama kian jelas, pertanda baik.

Yeeaaahh ahirnya kami tiba di curug 2 dan sepi, tak ada satu orangpun disana. Kami mendekat dan olala, angin disekitar curug cukup besar dan sangat dingin. Ketika kusentuh airnya, wuu..dingin! Tak akan kulewatkan tempat seindah ini begitu saja. Segera kupotret setiap sudutnya. Dan yang sudah sangat membuatku tak tahan adalah menceburkan diri tepat di bawah kucuran curug yang deras itu. Segera kuganti celana jinsku dengan celana pendek. Kuganti kantong kameraku dengan kantong anti air, dan yup, nyebur! Kyyaaaa….,it’s very very cold water, like from freezer! Dan arusnya itu lho, menempatkan diri tepat di bawahnya, kepala ini terasa seperti dipukul-pukul batu es, namun sangat segar. Ini baru namanya air gunung, dingin, bersih, dan segar. Sangat recomended bagi yang hendak berlibur ke Bogor. Cocok untuk liburan bersama keluarga, teman, maupun pasangan. Hanya beberapa menit berendam, sudah cukup membuat kami semua menggigil kedinginan. Tapi kami tak ingin meninggalkan tempat ini buru-buru. Di sini hanya ada kami berempat, kami bebas bermain dan berfoto di setiap sudut, berapa kalipun tak ada yang mengahalangi kami ataupun membuat kami mengantri. Inilah bagian dari kehidupan alam yang saling melengkapi. Aliran deras air yang menyembul dari dalam tanah, mengalir melewati bebatuan, celah akar-akar pohon, dan tetap tersembunyi diantara pepohonan hutan hujan tropis, menyatu membentuk sebuah harmoni alam.

Perjuangan kami mendaki selama hampir 2 jam terbayar sudah. Kami puas dengan persembahan alam yang kami nikmati. Saatnya kami pulang.

Lembab, identik dengan pacet. Tak seorangpun dari kami yang tidak menjadi korban hisapannya. Kecil, tak terasa, sudah menempel di kaki dan tangan kami menyedot darah kami seperti seorang bayi yang sedang menyusu pada ibunya. Kami para manusia adalah makhluk sosial, namun kami juga geli melihat seekor makhluk penghisap darah menempel di kulit kami. Cukup sedikit saja, kami terpaksa harus melepaskan mulut si pacet dari kulit kami. Kami anggap kami sudah cukup berbaik hati merelakan si pacet mencuri darah kami.

Di perjalanan turun, kami sempatkan mampir ke curug 4. Yeah, benar dugaan kami, masih cukup ramai. Untung saja kami tadi tetap meneruskan perjalanan kami hingga curug 2, karena sebelum kami putuskan turun, 6 orang muncul di curug 2. Kami benar-benar beruntung hari itu.

Tak mau kejadian seperti sebelumnya terulang lagi, kami putuskan memakai jalur lain. Kali ini tanpa GPS, hanya bermodalkan feeling, mengikuti petunjuk arah yang terpasang di lampu merah, dan bertanya pada orang. Alhasil, perjalanan kami memang menjadi lebih lama namun kami tak perlu melewati jalan tikus maupun jalan setapak. Kami melewati jalan raya hingga rumah. Jalan-jalan kami hari itu ditutup dengan makan malam di warung seafood di Cileungsi.

Note : makan di warung seafood bukan berarti pesan cumi,udang dan kawan-kawannya. Inilah menu yang kami pesan malam itu : cah kangkung, tempe goreng, bebek goreng, sop ayam, 3 gelas es jeruk, dan 1 gelas air putih.

Lantas, untuk apa kami harus memilih warung seafood jika menu yang dipesan adalah menu-menu warteg?? 😀

CIMG0670Welcome

CIMG0689

Area Camping

CIMG0692

Curug 7 Full

CIMG0709

Curug 5 juga full

CIMG0719

Hati-hati, licin

DSCN0971

Menanjak

DSCN0984

Masih banyak kera liar di sini

DSCN1009

Curug 2

DSCN1014

Cold water

DSCN1020

Breeze

DSCN1076

Clear

DSCN1082

Gurug 4

DSCN1099

Villa yang disewakan

DSCN1104

Camp Land

DSCN1093

Arena sekitar Curug 5

DSCN1105

Green

DSCN1100

Tersembunyi

4 Comments Add yours

  1. K.A. Wibowo says:

    Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…

  2. diah says:

    wooowww keren jg ya curug cilember
    rencana sabtu tgl 09.11.2013 mau kesana, tp jika hanya ber2 dengan pasangan rasanya kurang asik 🙂
    bisa tunjukin arah gk kak?

    1. supersummit says:

      Lewat jalan raya puncak. Nanti ada pertigaan ke kiri yg mengarah ke curug cilember. Sy lupa kilometer berapa, dket sama jalan ke taman matahari. Sktr 8 kilometer sblm taman safari. Ada papan yg nunjukin arah ke curug cilember kok.
      Itu sy jg bru pertama kali, cuma brmodal GPS, jd sempet nyasar lwt jalur2 tikus. wkt plngnya bru sadar kalo trnyt lwt jalan raya punck bs. Kalo mw ksna brngkt pg aja, krn tau sndri, punck sgt macet saat weekend.
      Smg brmanfaat, jgn malu untk tny orang kalo ga tau jalanya. Terimakash untk komenya 🙂

    2. supersummit says:

      Lewat jalan raya puncak. Nanti ada pertigaan ke kiri yg mengarah ke curug cilember. Sy lupa kilometer berapa, dket sama jalan ke taman matahari. Sktr 8 kilometer sblm taman safari. Ada papan yg nunjukin arah ke curug cilember kok.
      Itu sy jg bru pertama kali, cuma brmodal GPS, jd sempet nyasar lwt jalur2 tikus. wkt plngnya bru sadar kalo trnyt lwt jalan raya punck bs. Kalo mw ksna brngkt pg aja, krn tau sndri, punck sgt macet saat weekend.
      Smg brmanfaat, jgn malu untk tny orang kalo ga tau jalanya. Terimakash untk komenya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s