Semua Berawal dari Allah

Kamis, 7 November 2013

Hari yang sama ketika aku membuat sebuah keputusan yang akan mengubah hidupku selamanya. 7 November 2012, masih kuingat jelas ketika jantungku berdegup kencang di dalam pesawat Batavia Air. Ini kali pertamaku naik pesawat. Guncangan yang terjadi saat pesawat melewati awan, membuatku menutup mata sambil terus berdoa semoga pesawat ini tidak akan jatuh. Betapa menakjubkannya kawah Merapi yang kulihat dari atas, yang menyadarkanku betapa kecilnya aku jika dibandingkan dengan alam semesta ini. Dan masih kuingat jelas ketika aku melangkahkan kakiku untuk pertama kalinya di Belitung.

Tangisan pertamaku di Batu Mentas, ketika seseorang menyuruhku kembali ke Jawa. Katanya, dia menyayangkan diriku di sini. Banyak hal lain yang bisa aku lakukan di Jawa daripada harus menjadi “pesuruh” di sini. Aku ingin pergi, tapi tak bisa.

Memasuki bulan Desember, goncangan jiwa semakin tidak karuan. Keadaan memberiku 2 pilihan, bertahan atau kalah sebelum final. Kuputuskan bertahan karena aku terlalu malu untuk pulang. Kuingat betul ketika aku mengatakan pada diriku sendiri sesaat sebelum aku memutuskan untuk pergi ke Belitung “Keputusan apapun, jika itu adalah keputusanku sendiri, maka jika ada masalah yang terjadi, aku pasti bisa menanggungnya”. Tuhan mencatat apa yang keluar dari mulutku, dan terjadilah.

Akhir Januari, aku beralih profesi menjadi seorang resepsionis hotel bintang 3. Ini jauh lebih baik jika dilihat dari jumlah pemasukan yang diperoleh setiap bulannya. Aku senang, bisa sedikit terbebas dari bebanku sebelumnya. Tapi ternyata,  gaji bukan jaminan hidupku akan baik-baik saja. Hari pertama mulai kerja, aku sudah dibuat jengkel hingga akhirnya aku lagi-lagi menangis. Bertengkar dengan si satpam, membuatku bermusuhan dengannya hingga hampir habis masa kerjaku di hotel. Belum lagi si housekeeping yang sangat tidak ramah membentak-bentakku karena sebuah kesalahan kecil. Kembali aku menangis, dan dia tak menyadari betapa menyakitkannya perlakuannya padaku.

Februari, disaat aku membutuhkan bantuan dari seorang tambatan hati, dia justru menghilang. Masalahku sudah terlalu berat dan aku ingin membaginya, minimal menjadi pendengar yang baik. Aku ingin bercerita, aku butuh masukannya, tapi dia malah menghilang dan menambah beban pikiranku saja. Dan sayangnya menguras cukup banyak waktu, tenaga, dan pikiranku. Akhirnya, kurelakan dia pergi tanpa kutahu alasan dia pergi.

Tak sesuai keinginan, pekerjaan ini terasa berat. Aku dipaksa belajar dalam waktu singkat, dimulai dari nol. Bosan, was-was, khawatir, benci, senang, puas, semua perasaan sudah kualami di sini. Terikat kontrak 3 bulan, kukuatkan diriku menghadapi semuanya. Tak ada hari tanpa masalah, seolah seisi dunia berkonspirasi untuk mengerjaiku.

Tepat sebelum kontrakku berakhir, datang seorang malaikat keberuntungan. Dia datang membawakanku setitik harapan. Sama halnya ketika seorang pengemis miskin yang setiap hari mengais tempat sampah untuk mendapatkan makanan sisa, tiba-tiba datang seorang yang murah hati memberinya sekotak nasi padang, betapa bahagianya dia. Itulah aku, dia membawakanku tidak sekedar nasi kotak, tapi lengkap dengan minuman dan makanan penutupnya. Aku bebas.

Di ibukota, kunikmati kebebasanku. Kubiarkan diriku makan apa yang ingin aku makan, pergi ke tempat aku ingin pergi, dan bertemu dengan siapa pun yang ingin aku temui. Puas, tak selamanya bertahan dalam kepuasan itu. Enam bulan tak terasa sudah berlalu, dan aku mulai menyadari bahwa hidupku tak lebih baik dari hidupku sebelumnya. Di sisi yang lain, justru hidupku sangat parah. Hidupku tak tentu arah, aku terombang-ambing, dan semuanya terasa monoton, itu-itu saja. Aktivitas yang berjalan sebagai rutinitas, aku tak hidup di dalamnya. Kembali terpikir olehku untuk mencari sesuatu yang baru lagi. Namun, aku bimbang karena ada banyak pilihan di hadapanku. Terlalu banyak, masih berdekatan dengan kata serakah. Aku tak fokus, aku bahkan tak tahu apa yang menjadi tujuan hidupku. Aku menjadi takut untuk berbuat dan mengambil keputusan.

Hingga semalam, lewat perbincangan singkat namun penuh makna dengan seorang “induk semang”, aku cukup tertohok. Kusadari, aku mengalami penyakit yang kusebut dengan “kekeringan iman”.  Dia yang pernah mengalami situasi terburuk yang mungkin melebihiku, tahu benar apa yang kurasakan. Katanya, semua hal ini terjadi karena aku hanya fokus pada diriku sendiri. Sampai kapan pun kejadian seperti ini akan terus terulang hingga aku mengubah cara berpikirku. Apa sesungguhnya makna hidup ini? Apa sesungguhnya tujuan hidupku? Prestasikah? karirkah? uangkah? posisikah? Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Aku berjalan semauku, memilih jalan semauku, dan tanpa memprediksi jalan yang kupilih mungkin saja bercabang, buntu, atau malah berujung jurang.

Semua berawal dari Allah. Itulah bab pertama yang kubaca dalam buku The Purpose Driven Life. Bab ini memaksaku untuk menarik mundur ingatanku, dan akhirnya kutemukan sebuah titik. Bukan kelakuan atau pun kebiasaanku yang perlu diubah, namun cara pikirku. Ya, hidupku sudah kacau. Ketika kukatakan pada “induk semangku” bahwa aku takut melangkah, aku takut tak bisa bertahan, aku takut tersesat, dia menjawab “sekalipun kau berada di padang gurun yang gersang seorang diri, akan ada mata air yang akan menyelamatkan hidupmu”.

Satu tahun sudah berlalu, dan hari ini kumulai lagi apa yang pernah kumulai. Apa yang kumulai dulu tak sama dengan apa yang kumulai sekarang. Karna menjalani hidup berarti membiarkan Allah memakai Anda bagi tujuan-Nya, bukan Anda yang menggunakan Allah bagi tujuan Anda sendiri. (PDL page 18).

Fokus pada Allah, adalah jawaban kunci dari segala pilihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s