Snorkeling untuk Pertama Kalinya

Bang Asro, sosok bertubuh pendek namun kekar itu sungguh tak pernah luput dari ingatanku. Dia, si mantan bajak laut yang juga seorang penggila wanita adalah salah satu guru terbaikku.

Kuteringat, malam itu dia datang dalam rapat untuk penggarapan acara Batu Mentas Expo 2012  seorang diri. Lewat perkenalan singkat, aku hanya tahu namanya. Dia bicara begitu cepat, dalam logat Melayu yang sangat kental hingga aku tak mengerti apa yang diucapkannya.

Hingga di hari berikutnya dia mengajakku untuk ikut ke pulau Kepayang, lokasi konservasi penyu yang kami kelola. Dari situlah aku tahu, ternyata dia adalah sang nahkoda kami, dialah si supir boat yang akan mengantar para tamu berkeliling pulau-pulau di Belitung. Aha, aku punya kawan dengan keahlian khusus. Kurasa aku akan “memanfaatkannya” , aku perlu ilmunya.

Perjalanan keliling pulau ku yang pertama bersama tamu adalah pada tanggal 16 November 2012. Dari situlah untuk pertama kalinya aku mengagumi keindahan laut yang sejak dulu aku takuti. Aku yang seorang pencinta gunung, dan aku si penakut laut, begitu terpukau saat boat bermuatan maksimal 25 orang ini membawaku berkeliling pulau. Perlahan, kunikmati goncangan pelan si ombak, sentuhan lembut si angin, dan riak air laut yang mengenai wajahku. Ketakutanku akan laut, berubah saat kulihat puluhan bintang laut nampak jelas berjejer, terdiam di dasar laut yang jernih. Lambat laun, apa yang selama ini kutakuti mulai pudar. Aku jatuh cinta pada laut untuk pertama kalinya, pada laut Belitung.

Tanjung Kelayang

Jatuh cinta pada pandangan pertama

Aku tak pandai berenang, namun duniaku sekarang tak akan lepas dari laut. Laut akan menjadi makananku setiap hari. Sungguh memalukan jika aku si pegawai travel, bahkan kami juga menjual paket diving, tak pernah ikut menyeburkan diri menatap langsung makhluk laut macam apa yang hidup di dalamnya. Kuminta pada Bang Asro untuk mengajariku ilmu yang paling dasar, snorkeling. Aku hanya pernah melihat di TV orang-orang yang memakai masker, berenang-renang di laut. Saat itu aku berpikir, apa mungkin bernafas hanya dengan mulut dan mengandalkan alat yang disebut masker itu untuk berenang?

Kutahu jawabannya ketika kesempatan itu datang. Sejak dulu aku bertanya-tanya sebetulnya untuk apa orang menggunakan kacamata renang saat berenang, toh yang diperlukan dalam berenang hanyalah menggerakkan kaki dan tangan agar tetap terapung. Ketika kupakai masker itu untuk pertama kalinya, barulah aku tahu. Aku bisa melihat air laut dengan jelas, dan mataku tak perih. Bodoh benar aku selama ini tak memahami fungsi si kacamata ini.

Asin, aku langsung menaikkan kepalaku. Kenapa air lautnya ikut terminum? Kenapa sulit sekali untuk memisahkan mana yang untuk dihirup, dan mana yang untuk diminum. Bang Asro menyuruhku mencobanya lagi. Dengan sabar dia menanti hingga mulut dan otakku bersatu padu, bekerjasama menyinkronkan apa yang tak kumengerti.

Aku mulai bisa mengatur nafasku. Kucoba menggerakkan kaki dan tanganku, kurasakan tubuhku mulai bergerak. Berenangkah aku? Tiba-tiba Bang Asro menarik tanganku. Dia membawaku ke bagian yang lebih dalam. Aku mulai khawatir, bagaimana ini, aku baru saja belajar menggunakan masker, aku bahkan tak pernah berenang di laut sebelumnya. Memandangnya saja sudah takut. Namun, kuberanikan diri untuk tetap menurutinya. Lagi pula dia ini master, tak mungkin dia akan membiarkanku tenggelam.

Kulihat ikan warna-warni bergerak di sekitarku, dan ketika aku bergerak maju lagi, oh my God, aku melihat karang! Karang yang beranekaragam, bergerak-gerak, melambai-lambai padaku. Lalu, seekor nemo muncul dari dalamnya, satu lagi, dan satu lagi. Nemo yang hanya pernah kulihat di film Finding Nemo, kini nyata di depanku! Kuulurkan tanganku, aku ingin menangkapnya, sial, dia lolos. Dia sungguh lincah, badannya yang begitu mungil memudahkannya untuk kabur dariku.

Terumbu karang

Bang Asro menarik tanganku kembali, membawaku ke tempat yang lebih dalam lagi. Akh, aku tercekat. Seekor makhluk hitam bulat berbulu panjang dan tajam ada di bawahku. Makhluk itu ada banyak, sangat banyak, muncul di antara karang-karang. Kutahu saat itu juga, itu bulu babi. Ingin rasanya segera aku pergi dari situ, tapi aku tak bisa. Aku takut, air laut ini semakin dalam, aku terus memegang tangan Bang Asro. Bukannya membawaku pergi, dia malah melepaskan genggamannya, lalu berenang, mendekati si bulu babi. Dia menyentuhnya, dan menunjukannya padaku. Tidak, tidak, aku tak ingin menyentuhnya, itu terlalu mengerikan untukku.

Masih dalam keadaan panik, kugerakkan sendiri tangan dan kakiku, mencoba menghindari si makhluk berbulu itu, sambil terus mencoba menenangkan diri. Ah sial, ternyata si bulu babi ada di mana-mana. Aku langsung mempercepat gerakanku, akhirnya perlahan si makhluk berbulu hitam itu menghilang, digantikan oleh karang-karang yang indah lagi. Bang Asro muncul di sebelahku. Dia menarik tanganku kembali, lalu membawaku mengelilingi sebuah batu granit besar.

Entah sudah berapa lama aku berenang, aku sangat menikmatinya hingga tak terasa ternyata aku sudah berada di tepi pantai. Aku tak percaya, aku baru saja melakukan snorkeling, aku baru saja berenang di laut, tanpa lifevest! Tak pernah terpikirkan dalam otakku aku akan menceburkan diri ke dalam laut. Bang Asro telah menghilangkan ketakutanku pada laut. Dia telah mengubah pemikiranku tentang laut. Dia hebat!

IMG_0280

Bang Asro yang selalu sederhana

IMG_0955

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s