From Heart to Foods

“Memberi dengan sepenuh hati” mungkin itulah yang menjadi moto para pekerja di Jepang. Pekerjaan apapun, harus membuahkan karya yang baik dan tak menipu. Belum ada satu pun barang yang kubeli di sini yang mengecewakan sekali pun harganya murah.

Buah dan sayur, dua makanan yang sangat kusukai yang sayangnya harganya tak jauh berbeda dengan harga daging. Di sini, semua buah dan sayur berukuran jumbo dan sangat segar. Mereka tak akan menjual buah dan sayur yang sudah layu atau cacat. Dan setiap dua atau tiga hari sekali akan ada pasokan yang baru sehingga produk yang sebelumnya akan dijual dengan harga yang lebih murah. Kualitas, itulah yang mereka pertahankan. Dan menurutku pula, buah dan sayur di sini tak cepat busuk seperti yang ada di negaraku sendiri meskipun sudah disimpan berminggu-minggu di dalam kulkas. Kecuali untuk beberapa jenis sayur yang memang ada tanggal kedaluwarsanya, itu memang harus segera dikonsumsi.

Tak ada satu pun snack jepang yang tak enak. Mau yang murah maupun yang mahal, semuanya sangat enak. Untuk penggemar cokelat seperti aku, sungguh sulit untuk menahan godaan untuk tidak membeli cokelat seharga 100 yen yang rasanya sungguh enak. Semuanya sangat enak, mulai dari permen, biskuit, wafer, cokelat batangan, semuanya sangat lezat.

Jepang adalah negara yang sangat memperhatikan kesehatan warga negaranya. Tidak hanya sayur dan buah yang dijual dalam keadaan sangat segar, hal ini berlaku juga untuk daging dan ikan. Daging dan ikan yang dijual juga dilengkapi dengan  tanggal kedaluwarsa yang hanya 2 atau 3 hari saja sejak tanggal dijual. Yang sedikit berbeda dengan di Indonesia, tidak ada penjual daging seperti yang ada di pasar tradisional di Indonesia. Semua sudah berupa daging kemasan yang bersih, serta beberapa produk yang memang ditujukan untuk masakan khusus sudah bebas tulang. Lebih menariknya lagi, untuk jenis daging yang cukup keras seperti sapi dan babi, kita tak perlu merebusnya terlebih dahulu supaya empuk sebelum diolah dengan bumbu yang lain untuk dijadikan masakan. Entah kenapa daging di Jepang cepat empuk jika dimasak sehingga lebih praktis dan tak perlu memakan waktu lama untuk memasaknya.

Hal yang sedikit mengherankan mengenai daging ayam yang ada di sini adalah ketika aku merebus daging ayam untuk diambil kaldunya untuk membuat sup. Hanya dalam hitungan menit, daging sudah empuk dan tak mengeluarkan kaldu sama sekali. Hanya ada buih-buih kecil tetapi bukan kaldu. Air rebusan tetap berwarna jernih, hanya ada sedikit seperti titik-titik minyak. Aroma kaldu pun tak tercium. Nampaknya daging-daging yang dijual memang sudah hampir bebas lemak semuanya. Entah kesimpulanku benar atau tidak, tapi kurasa semuanya karena satu alasan, kesehatan. Wajar jika presentase kematian di Jepang sangat rendah. Mereka sangat memperhatikan kesehatan. Bahkan, sekali pun mereka mengonsumsi bir setiap hari yang jika di Indonesia pastilah sudah sangat merusak kesehatan, nyatanya tak terjadi di sini. Mungkinkah kadar kalori alkohol di sini berbeda dengan kadar alkohol bir di Indonesia? Atau mungkin ini juga karena pengaruh gaya hidup mereka yang seimbang? Entahlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s