Tak Ada Pilihan #Fuji part 1

Tergopoh-gopoh aku berlari melintasi sepanjang jalan Shinjuku, berusaha secepat mungkin sampai di lampu merah pintu selatan stasiun Shinjuku. Aku tak ingin membuatnya terlalu lama menunggu. Bukan karena apa, aku hanya ingin segera tahu pria macam apa yang sudah tega menelantarkan aku dan Feli di gunung Fuji beberapa waktu lalu.

Kulihat sesosok pria berkulit coklat mengenakan kemeja biru, berdiri tepat di depan tempat penyeberangan, nampak jelas dia sedang menunggu seseorang karena dia terus memandangi handphone-nya.

Kuambil handphone-ku, kuketik di Line chat “Baju biru?” Kutunggu beberapa saat, yap dia mengangkat kepalanya, mencari seseorang. Tak salah lagi, dia Denny. Melihatku mendekatinya, tanpa ada senyum sedikit pun dia langsung merogoh saku celana belakangnya, mengambil dompetnya lalu mengeluarkan uang 12.000 yen. Tanpa basa-basi dia langsung memberikannya padaku.

“Udah kan” katanya.

“Udah, gitu doang?” tanyaku.

“Iya, apalagi?” rasanya aku seperti tersengat listrik mendengar perkataanya.

“Aku berharap kamu minta maaf mas”

“Ok, aku minta maaf ya”

“Gitu…doang…?” tanpa mendengar ucapanku selanjutnya, dia nyelonong pergi begitu saja. Yah, begitu saja, tanpa menoleh lagi.

Seluruh tubuhku dipenuhi rasa tak karu-karuan, marah yang tak tertahankan, yang tak dapat dikeluarkan. Ingin rasanya aku mengumpat saat itu, namun semuanya tertahan di sini, di kerongkongan, menyisakan sakit yang tak karuan. Sepanjang jalan kembali, kuingat lagi apa yang sudah terjadi, kuingat lagi saat di puncak Fuji, dengan suara ceria dia berkata “Bisa kan sendiri, katanya pendaki gunung” lalu kulihat wajah pucat Feli yang memelas minta di-rescue, tak sanggup berjalan lagi. Aku berada di posisi yang sulit……

Di dalam bus menuju stasiun Shizuoka, aku duduk dengan cemas sambil terus memandangi jam. Mereka akan memulai pendakian pada pukul 7 malam, tepat 4 jam dari sekarang. Aku tidak tahu apakah kami masih bisa mengejar bus yang menuju basecamp Fujinomiya tepat waktu atau tidak karena jam 16.55 itu sangat mepet. Pemandangan indah Hamamatsu tak bisa benar-benar kunikmati selama perjalanan. Pendakian yang semestinya dilakukan minggu kemarin harus tertunda karena adanya badai, lalu diubah ke minggu ini, tanggal 16 Agustus dimana hampir bertabrakan dengan summer camp yang kuikuti di sini.

Setengah berlari, kami menuju pemberhentian bus yang menuju basecamp Fujinomiya. Tepat pukul 16.50, kami segera masuk ke dalam bus, tanpa sempat membeli bahan makanan untuk mengisi perut kami malam ini. Tak apa, setahuku di basecamp Fuji ada toko yang menjual makanan dan peralatan pendakian.

Baru setengah perjalanan dengan bus, kulihat awan mendung mulai menutupi langit. Dan dalam hitungan menit, hujan deras mengguyur sepanjang perjalanan kami. Sial, kami lupa mengecek kondisi cuaca Fuji untuk hari ini. Aku harap kondisi ini berubah membaik ketika sampai di atas sana. Aku tak sabar bertemu dengan rombongan, dengan begitu aku dan Feli akan aman. Ini benar-benar pendakian pertamaku ke Fuji. Tawaran pendakian bersama ke Fuji dari senior beberapa minggu lalu sangat menggodaku, yang sudah bertahun-tahun silam mengimpikannya. Ketika kesempatan itu datang, tak ingin kusia-siakan begitu saja. Meski harus mepet dengan jadwal summer camp, tak apalah. Kapan lagi kesempatan seperti ini datang, mendaki Fuji bersama banyak teman seangkatan, dan Fuji hanya bisa didaki saaat summer. Aku masih terlalu baru di Jepang, tak paham dengan akses jalan-jalan di sini. Summer tahun depan, belum tentu ada kesempatan yang sama seperti ini lagi.

Sekitar pukul enam aku dan Feli tiba di basecamp Fujinomiya. Setengah berlari kami keluar dari bus ke bangunan terdekat, lalu mengenakan mantel. Akh, sial hujan ini malah semakin deras. Kami bergegas menuju basecamp, dan mencari rombongan. Terdengar sekelompok orang berbicara dalam bahasa Indonesia di depan toko. Segera kami mendekati mereka, namun tak ada satu pun wajah yang kukenal. Aku dan Feli kembali berjalan mengelilingi basecamp, dan lagi-lagi kami bertemu dengan orang Indonesia yang lagi-lagi tak kukenal. Baru kusadari, ya..ini tanggal 16 Agustus, dan besok tanggal 17 yang berarti hari kemerdekaan Indonesia. Pantas saja ada banyak orang Indonesia di sini.

Tak bertemu siapa pun yang kukenal, kuputuskan untuk mengirim pesan ke Denny menanyakan posisi mereka. Tak berapa lama, ada panggilan telefon masuk dari nomor tak dikenal. Seorang perempuan tanpa basi-basi langsung menanyakan dimana posisi kami berada. Ternyata dia teman Denny. Dia mengatakan kalau mereka ada di dekat bus. Sambil masih memegang handphone, aku dan Feli bergegas turun ke area parkiran bus. Tak ada siapa pun kecuali bus kosong yang nampak gelap. Aku kembali ke atas, kukatakan bahwa aku ada di dekat jidouhanbaiki, dan perempuan itu juga mengatakan ada di posisi yang sama denganku. Kami saling mencari, namun tak saling menemukan. Kami saling meng-claim bahwa kami di posisi yang mudah ditemukan, tapi nyatanya kami tak saling bertemu.

Mendadak perasaan tak nyaman merayapi pikiranku. Aku ragu apakah kami benar-benar ada di tempat yang sama, basecamp Fujinomiya. Yah, aku harus memastikannya. Pip. Handphone mati, baterai habis. Kupakai handphone Feli untuk kembali menghubungi mereka. Kali ini Denny yang mengangkat. Dia juga mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh temannya, dia berdiri di dekat jidouhanbaiki. Geregetan, kutanyakan apakah dia berada di basecamp Gogome Fujinomiya. Dia mengatakan ya, dia ada di Gogome. Aku makin geregetan. Kujelaskan padanya kalau Fuji memiliki empat jalur, Yoshida, Subashiri, Gotemba, dan Fujinomiya, yang kesemuanya dimulai dari 5th station atau Gogome, dan kini aku berada di jalur Gogome Fujinomiya.

Sesaat, terdapat jeda pembicaraan di antara kami berdua, dia terdiam selama beberapa detik. Lalu dengan nada datar, dia mengatakan kalau mereka berada di jalur Yoshida. Dia menyuruh kami naik bus atau mencari taksi untuk menuju ke jalur Yoshida. Mendengar jawabannya, lemas terasa tubuh ini. Kumatikan telefonku. Shiiiiittttttt!! Arrrggghhhhh!! Kemarin kamu bilang via jalur Fujinomiya, kenapa sekarang di Yoshida? Aiiissshhh….ketua panitia macam apa itu, sampai tidak paham jalur Fuji padahal jelas-jelas ini acaranya pendakian Fuji! Dan ini kita ada di gunung, bukan Shinjuku yang tiap menit ada kereta! Boro-boro taksi, bus aja belum tentu ada. Ingin rasanya aku mengumpatkan segala macam isi kebun binatang, namun semua itu tertahan disini, ditenggorokan, sampai buat nelen aja sakit!

Aku dan Feli berdiskusi. Aku sama sekali tidak tahu apakah ada akses menuju jalur Yoshida dari sini karena bus yang masih terparkir di bawah hanyalah bus menuju stasiun terbawah, dan tak ada taksi. Jadwal keberangkatan pendakian jam 7, dan itu sekitar 15 menit lagi dari sekarang. Tidak mungkin kami mengorbankan rombongan yang berjumlah besar itu hanya untuk menunggu kami berdua, 2 wanita yang ingin mendaki Fuji tapi terancam batal karena informasi yang diterima salah. Mau balik pulang, akh…berjam-jam perjalanan dari Hamamatsu, berganti-ganti kereta dan bus, telfon sana-sini cari info, lari-lari ngejar bus demi sampai di basecamp secepat mungkin, harus berakhir seperti ini? Tidak, ini terlalu menyakitkan. Kami tak ingin perjalanan panjang kami sia-sia setelah minggu lalu pun sudah batal.

Kami stuck, Denny juga tak memberikan “dukungan moril” minimal minta maaf karena gara-gara dia kita terdampar di tempat yang salah. Aku dan Feli benar-benar bingung, hingga sebuah ide gila mendadak muncul di kepalaku. Kutanya Feli apakah dia bersedia jika kita tetap mendaki, namun hanya berdua atau kalau beruntung, kita bisa “nebeng” bareng rombongan orang-orang Indonesia itu. Meski ragu, namun saat itu seperti tak ada pilihan lain. Feli juga tak ingin perjalanan ini sia-sia. Sepakat, kukirim pesan ke Denny untuk tak perlu menunggu kami. Masalah kami berdua, tak perlu dipikirkan, berharap saja kita bisa bertemu di puncak esok paginya. Finish.

2 Comments Add yours

  1. Denny says:

    Konnichiha… boku ha Denny desu (hoka no Denny desu ne). Higashi Jawa no Blitar kara desu.. 10-nen mae ni Hamamatsu Honda kiken hatarakimashita. udah lama banget ya..
    Kyou, net-surfing toki ni totzusen kimi no blog mitsukemashita. Yoi blog to omoimasu ne.
    Ima, kanarazu Nihon de fuyu desunode samui desukedo shigoto/benkyou ganbatte kudasai ne.
    Sono aida ni, boku no nihon go wasurenai tame, tamani nihon go de mail toka denwa toka de boku to hanashite kuremasenka? Onegaishima~su..

    Denny
    denntri@gmail.com
    081393334599

    1. supersummit says:

      Halo Mas Deni

      Boleh. Kalau mau ngobrol bisa lewat email saya titisrohanasuci@gmail.com
      Salam kenal 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s