Puncak dan 119 #Fuji part 3

Dalam perjalanan dari pos 9 menuju puncak, Feli mulai mengeluh dengan perutnya. Dia merasa lemas dan mual. Dia tak memiliki sejarah penyakit maag atau pun gangguan pencernaan lainnya, dia juga tak memiliki alergi apa pun. Kurasa penyebabnya hanya satu, lelah.

Kami berjalan lebih perlahan, dan memperbanyak istirahat. Setelah berjuang selama sekitar dua jam, akhirnya kami sampai di gerbang kuil. Gerbang penanda bahwa kami telah sampai di puncak tertinggi Jepang, Fuji san. Langit yang begitu cerah, awan putih berarak bebas, hamparan hutan hijau terlihat di bawah sana. Inilah tempat impian orang-orang Jepang untuk sekali seumur hidup mereka, puncak Fuji.

Satu lagi kehebatan orang Jepang yang pantas kuacungi jempol, mereka membangun warung ramen dan kantor pos di puncak Fuji. Kantor pos yang menjual sertifikat tanda berhasil mencapai puncak Fuji. Hanya dengan 500 yen, sertifikat yang bisa membuat bangga ini pun bisa dibawa pulang.

Kondisi Feli semakin memburuk. Ramen yang kuberikan padanya, hanya beberapa suap yang dia makan. Dia benar-benar lemas dan tak sanggup berjalan lagi. Aku harus mencari rombongan senpai dari sekarang. Meski tak ingin berbicara dengan Denny lagi, ini harus. Mau tak mau, tak ada pilihan lagi karena Feli butuh pertolongan, dan hanya rombongan yang bisa membantunya. Bukannya kami juga bagian dari tim?.

Kutelfon Denny, dia mengatakan kalau mereka juga sudah sampai di puncak dan kini bersiap untuk upacara bendera dan kami diminta untuk ke sana. Kutanya di puncak sebelah mana karena puncak Fuji sangat luas, dan memiliki beberapa titik dari jalur yang berbeda. Aku tidak bisa menangkap sama sekali dimana posisi mereka meski Denny sudah menjelaskannya. Kukatakan kami tak bisa ke sana karena Feli sudah tak sanggup berjalan. Kami akan menunggu di sini, di titik persimpangan semua jalur Fuji. Kutunggu mereka hingga beberapa lama, namun mereka tak kunjung muncul. Aku mulai khawatir, jangan-jangan ada jalur yang lain lagi. Pada saat itu pula, tetiba Feli bilang dia sudah tak punya tenaga untuk turun.

“Kamu serius fel udah ga sanggup jalan lagi” tanyaku, yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.

“Kamu mau di-rescue?” tanyaku lagi, dan dijawab dengan sebuah anggukan kecil.

Kulihat Rendy yang sedang asyik berfoto bersama teman-temannya, aku tak mungkin merepotkan mereka lagi. Mereka sudah diikuti 2 gadis “tersesat” hingga mereka harus mengalah untuk memelankan cara berjalan mereka, dan kini, salah satu dari gadis “tersesat” ini pun tumbang. Ditambah lagi dengan kelakuan Denny yang seperti lupa kalau kami ada, kami benar-benar seperti domba yang hilang dari kawanan. Kawan tak ada, rombongan pun tak punya. Tak ada yang bisa dimintai tolong. Dengan sisa-sisa baterai yang tak sampai 10 persen, kutelfon 119. Parahnya, mereka tak dapat berbicara bahasa Inggris. Kucoba bicara dengan bahasaJepang yang entah tata bahasa macam apa yang kupakai, kujelaskan kalau kami berada di puncak Fuji dan temanku butuh di-rescue. Yang bisa kutangkap adalah mereka memintaku untuk datang ke pos penjagaan yang ada di puncak Fuji. Kukatakan tak ada pos di sini. Dia menjelaskan lagi panjang lebar yang berakhir dengan dia memintaku untuk memberikan telefon ini ke orang Jepang yang ada di sekitarku, siapa pun itu.

Dalam pikirkanku langsung terlintas si penjual ramen. Tak peduli dengan wajah si penjual ramen yang nampak bingung ketika aku meminta bantuannya untuk mengangkat telefon, kusodorkan telfonku padanya. Beberapa menit dia bicara sambil sesekali memandangku. Tak berapa lama kemudian, dia mematikan telefonnya, lalu tanpa banyak bicara dia mengantarku ke sebuah pos kecil di dekat persimpangan jalur. Dia memintaku untuk meminta tolong pada orang yang ada di dalam pos tersebut.

Pada penjaga pos, kujelaskan kondisi Feli yang minta di-rescue karena kondisinya yang sangat lemah. Kupikir aku akan mendapatkan bantuan berupa obat sementara atau apa pun itu, malah penjelasan panjang tentang konsekuensi kalau mau di-rescue. Mereka tanya apakah kami bisa membayar, karena rescue yang mereka maksud disini adalah penyelamatan yang benar-benar menyelamatkan dengan mengirimkan helikopter ke puncak untuk mengangkat korban. Tak terbayangkan berapa banyak uang yang akan dihabiskan untuk menyelamatkan Feli ini. Kami cuma pelajar asing yang hidup dengan mengandalkan beasiswa. Untuk bisa bertahan hidup di Tokyo saja kami musti irit seiritnya, bagaimana mungkin kami mau sewa helikopter? Lemas terasa seluruh tubuh ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s