Tahun ke 13

Aku selalu percaya bahwa angka 7 adalah angka sempurna untukku. Angka keberuntunganku. Lebih tepatnya aku selalu mensugesti diriku sendiri dengan segala hal baik melalui angka tujuh. Kurasa bukan sebuah kebetulan jika aku lahir di tanggal tujuh. Aku selalu merasa bahwa hidupku terlalu indah dengan segala keberuntungan-keberuntungan ataupun hal-hal baik yang datang kepadaku. Aku mungkin pernah mengalami tersakiti yang teramat sangat yang membuatku ingin mati rasanya, namun itu hanyalah satu persen dari seratus persen hidupku yang sembilan puluh sembilan persennya adalah sebuah kebahagiaan.

Cinta pertama adalah kenangan kecil namun berdampak besar yang pernah terjadi dalam hidupku. Dia yang membuatku penasaran dari pertama kali bertemu hingga saat ini, lahir di tanggal 27. Meski nampak mekso, tapi aku percaya bukan sebuah kebetulan dia lahir di tanggal ini. Kami yang sama-sama lahir di tahun ’92, menjadi pasangan termuda di kelas kala itu. Ditambah lagi kami juga memiliki ukuran tubuh yang juga sama-sama kecil, menambah kebahagiaan teman-teman untuk mencie-ciekan kami. Bagi mereka kami adalah pasangan yang sangat cocok, serasi, dan pas. Setahun berada di kelas yang sama, kami selalu bertengkar khas anak kecil, mengolok-olok satu sama lain, bahkan merusak barang satu sama lain, dan kami merasa hambar jika sehari saja tak mengganggu satu sama lain. Dan akhirnya, tanpa kusadari aku merasa ada yang berbeda. Aku tak senang jika dia tak mengangguku. Aku tak senang jika dia tak mengataiku barang seharipun. Dan aku tak senang jika dia tak ada! Aku merasa tak lengkap tanpanya! Perasaan berbunga-bunga tiap kali dia ada, dihadapanku, dan menggangguku. Aku jatuh cinta, untuk pertama kalinya.

Perasaan anak sebelas tahun, tanpa pernah teracuni oleh sinetron tak bermutu tentang cinta-cintaan, tak tahu bagaimana cara agar perasaan ini tersampaikan. Ketika memasuki tahun kedua, kami terpisah, dia di kelas C dan aku di kelas A. kami masih saling mengejek di awal-awal kami berpisah. Perasaan ini semakin tak terbendung. Aku ingin dia tahu isi hatiku. Namun aku tak punya nyali untuk mengatakannya sendiri. Akhirnya lewat seorang teman, yang sejak dulu tahu betul bagaimana perasaanku terhadapnya, dia menawarkan diri untuk membantuku, menjadi kurirku, menyampaikan pesan cintaku. Hari itu, sepulang sekolah dia menyampaikan tugas teramat penting ini. Aku menunggu di dalam kelas yang kosong sendirian, harap-harap cemas menunggu kawanku kembali dari misi pentingnya. Setengah jam kemudian, temanku datang dengan wajah yang tak dapat kuprediksi buruk atau baikkah kabar yang akan dibawanya.

“Gimana? Apa kata dia?”

“Dia cuma jawab owwhh Tis”

“Hah, maksudnya?”

“Yasudah, aku sampaikan semua isi perasaanmu. Dan dia hanya menjawah owh tanpa komentar yang lain”

Jawaban macam apa itu. Aku sungguh tak paham. “Owh” itu tak mengartikan apa-apa. Akupun galau. Aku tak bisa tidur, mencoba menelaah arti kata owh yang sungguh-sungguh tak dapat kupahami.

Dan ternyata, ini adalah awal dari mimpi burukku. Tak dinyana tak disangka, dia yang kucinta berubah seratus delapan puluh derajat. Hari-hari bahagia saat dia menggangguku, mengejekku, hilang dibawa hembusan angin. Dia yang dulu mengataiku untuk sebuah candaan, kali ini berubah menjadi kata-kata serius yang benar-benar menyakitiku. Aku yang dulu selalu berbunga-bunga tiap kali berpapasan dengannya, kini selalu berusaha menundukkan wajah tiap kali tak sengaja berpapasan dengannya. Aku tak berani melihat wajahnya. Bukan karena malu, tapi karena takut. Aku takut melihat ekspresi kebenciannya terhadapku. Aku semakin sakit ketika kutahu dia baru saja jadian dengan gadis dari kelas E. Gadis terkenal, cantik nan modern dan disukai oleh semua orang karena keramahannya, berhasil ditaklukan oleh cinta pertamaku. Aku menangis.

Rasa sakit ini terus berlanjut hingga di tahun ketiga. Kami dikembalikan ke kelas yang sama dengan ketika tahun pertama. Yah, aku sekelas lagi dengannya. Seandainya dulu tak pernah kusampaikan perasaanku padanya, mungkin kondisi ini akan menjadi hal yang sangat membahagiakan untukku. Berkumpul bersama dia yang diam-diam kucintai. Namun sayang, aku sudah terlanjur mengatakannya. Nasi sudah menjadi bubur, cinta pertamaku menganggapku sebagai hama yang sangat mengganggu pandangan. Dia selalu mengataiku dengan kata “belis” yang berarti iblis. Entah dari mana dia mendapatkan kata-kata sekotor itu. Yang kutahu, dia selalu mengataiku seperti itu setiap hari. Sejak saat itu, barulah kutahu kalau jatuh cinta itu tak selamanya indah. Sensasi berbunga-bunga dan senyum-senyum sendiri itu sudah tak ada lagi. Segalanya telah berubah menjadi air mata kesedihan. Aku berhasil bertahan bersabar hingga lulus. Dan aku bersyukur karena kami melanjutkan sekolah di SMA yang berbeda. Aku bisa bebas dan memulai hidupku yang baru tanpa perlu takut disakiti olehnya. Tak lama sesudah itu, pada tahun kedua kudengar kabar bahwa dia pindah sekolah ke Bandung, bersama dengan seluruh keluarganya. Dan aku tak pernah mendengar kabar lainnya lagi tentangnya, bahkan teman-teman terdekatnyapun tak banyak yang tahu dimana dan seperti apa dia sekarang.

Biarpun luka ini telah sembuh, namun kenangan tentangnya tak pernah hilang sedikitpun. Aku masih dihantui banyak pertanyaan dan rasa penasaran terhadapnya. Nampaknya dia tak pernah aktif di media sosial. Setiap kali aku mencari di google, yang kuperoleh hanyalah foto profil dia di facebook yang bahkan sampai sekarang tak pernah dia terima permintaan pertemananku dengannya! Aku tak berniat mengganggu hidupnya. Perasaan itu sudah tidak ada. Aku hanya ingin menuntaskan rasa penasaranku akan dia yang entah dengan alasan apa dia begitu membenciku. Aku percaya, suatu saat aku akan bertemu demgannya, meski entah berapa tahun lagi. Dan hingga tiba saatnya masa itu datang, aku akan terus menulis sebagai pengingat aku masih memiliki misi yang belum terseleseikan. Meski ini sudah menjejak tahun ke 13 sejak pertama kali kubertemu denganmu, bagiku ini belum apa-apa. Mungkin ini bisa melebihi kisah cinta Cinta dan Rangga :p

Happy Birthday Mr. D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s