0 Derajat

Perjalanan selama 4 jam dari Moscow ke Italy dengan menggunakan pesawat yang lebih kecil, dan tanpa hiburan sama sekali, benar-benar menjadi perjalanan yang cukup membosankan. Setelah 10 jam duduk di pesawat, memberondong 4 film berturut-turut karena sama sekali tak bisa tidur, perjalanan lanjutan ini menjadi lebih menyiksa lagi karena pesawat ini tak dilengkapi dengan layar hiburan. Aku sampai mati gaya dibuatnya. Mau tidur tak ngantuk mau nonton film tak bisa, mau nderengin musik hp masih dicharge, mau baca buku aku lupa kalo bukuku ada di koper, di bagasi. Ok, kuputuskan untuk memejamkan mata, meski tak mengantuk.

Aku sudah berniat sejak awal akan terpaksa pergi sendiri untuk perjalanan kali ini. Hingga satu bulan sebelum kebernagkatan, sebuah pesan singkat dari seorang teman mengubah segalanya. Pesan yang begitu singkat “Tis, kayaknya aku mau ikut kamu”. Feli, salah satu teman yang paling sering membuat kami khawatir dengan segala sifat lugu, kalem, polos, dan sering berubah-ubahnya, dan sometimes aku mneyebutnya zombie karena dia jarang minum dan jarang tidur, tak pernah terbayang kalau dia benar-benar ingin ikut menjelajah ke belahan bumi nan jauh disana. Alasannya begitu simple. “Aku lelah dengan Tokyo. Cuma pengen kabur sejenak. Kemana aja boleh, mumpung ada temen”. Pesan yang datang ketika aku sudah menyiapkan segalanya untuk seorang diri, dari mulai booking kamar hotel, tiket kereta beserta seatnya, dan segala tetek bengek, membuatku cukup sangsi dia bisa menyiapkan segalanya dalam waktu satu bulan. Ditambah dia ingin tinggal di hotel yang sama denganku, dan kalau bisa naik pesawat yang sama pula, aku hanya bisa menyemangatinya. Dan hal yang paling krusial dari perjalanan ini adalah visa. Dia hanya punya satu kali kesempatan untuk apply, tanpa gagal, mengingat waktu yang sudah begitu mepet.

Siapa yang hendak ke Italy, siapa pula yang malah berangkat duluan. Feli berhasil mendapatkan tiket dengan harga tak beda jauh denganku, namun dengan maskapai yang berbeda dan tanggal keberangkatan yang berbeda pula. Qatar Aiways, depart tanggal 21 malam dan aku tanggal 22 pagi. Parahnya, demi tiket murah ini, Feli harus meninggalkan 2 hari kelas terakhir sebelum libur musim dingin dimulai dengan alasan jika dia pergi tanggal 23, harga tiketnya berubah menjadi lebih mahal. Sedikit lari dari tanggungjawab di semester terakhir bukanlah sesuatu yang buruk I though 😉

Aku sudah mengatakan pada Feli kalau aku akan sampai di Milan tengah malam. Kuminta untuk menungguku dan tetap stand by dengan handphonenya, kalau-kalau aku nyasar atau butuh bantuan apapun. Tiba di Malpensa Airport, aku langsung menghubungi Feli. Kukatakan aku sudah sampai, dan masih menunggu bagasi. Tak ada balasan darinya. Dalam kereta perjalanan dari Malpensa ke Milan, aku kembali kembali kuhubungi Feli, bahwa aku sudah on the way menuju penginapan. Masih juga tak ada balasan. Kutelfon dia, namun tak diangkat. Apa yang kutakutkan terjadi, dia pasti tertidur. Ok, kuputuskan untuk menelfonnya beberapa saat lagi.

Suasana stasiun saat tengah malam

Tersasar. Sesuatu yang pasti dirasakan semua orang yang baru tiba di suatu tempat baru untuk pertama kalinya.  Aku salah mengambil jalur bus, kearah yang berlawanan. Kulihat google maps, aku justru menuju kearah yang semakin menjauh dari penginapanku. Kuputuskan untuk turun di pemberhentian selanjutnya. Aku berada di tengah-tengah perumahan yang gelap dan berkabut, tanpa ada seorangpun yang lewat. Krik…krik…I don’t know what should I do. Kucek kembali posisiku di google maps, aku tak terlalu jauh dari tempat yang ingin kutuju, hanya berjarak 3km. Mau jalan kaki jauh, mau naik buspun tak tahu haltenya ada dimana. Berhubung saya sudah terlalu lelah dengan perjalanan yang begitu panjang ini, akhirnya kuikuti saja saran mbah gugel. Kuklik tombol terbawah di layar handphoneku. Uber.

Apartemen yang kupesan melalui jasa AirBnB ini berada di tengah kota Milan, tepatnya di Via Giambellino 34. Apartemen ini tampak tua, namun kokoh. Kuhubungi Feli lagi berharap dia sudah bangun, namun masih nihil. Kuputuskan untuk menunggu. Di tengah suhu 0 derajat, tanpa melakukan apapun, hawa dingin ini benar-benar menusuk hingga ke tulang. Aku mulai menggigil. Kubuka kembali Line ku, masih belum diread. Meski kutahu ini percuma, tapi tetap kucoba menelfon Feli lagi. Maih tak ada jawaban. Kucoba melongok melalui pintu kaca siapa tahu ada petugas yang berjaga di situ, nyatanya tak ada siapapun. Aku tak tahu aku akan berada di kamar nomor berapa. Kucoba menghubungi si pemilik apartemen, namun tak ada jawaban. Wajar, ini tengah malam, pasti dia juga sudah tidur. Kucek kembali petunjuk yang diberikan si empunya rumah melalui pesan yng dia kirim beberapa hari sebelum aku ke Ityaly. Yang dia tulis hanyalah alamat rumah dan intercom 007.  Ah, intercom 007, mungkin itu nomor kamarnya. Kutemukan papan tombol tepat berada di sebelah pintu masuk gedung apartemen. Kupencet nomor 007, hanya bunyi kresek-kresek yang kudengar. Kupencet sekali lagi, terdengar suara seorang wanita yang sepertinya baru bangun tidur. Bukan Feli. Ketika dia bertanya aku siapa, mendadak aku tak tahu harus berkata apa. Kalau 007 bukan nomor kamarku, lalu itu nomor apa. Ingin segera kuputus sambunganini, tapi tak ada tombol yang Nampak seperti tombol off. Kudiam sejenak, dia mulai bicara lagi. Kali ini dengan nada marah. “Ini siapa? Jangan macem-macem atau kupanggil polisi”. Mendengar ancamannya, akhirnya kuputuskan untuk membuka mulut. Kujelaskan bahwa aku temannya Feli, aku ingin masuk ke kamar, tapi aku tak bisa karena Feli tertidur. Dengan nada marah lagi dia makin mengancam. “Aku tak paham maksudmu, siapa itu Feli? Kalau kau menelfonku kembali, akan kupanggil polisi” Aku shock, bagaimana kalau dia benar-benar memanggil polisi, dan aku akan ditangkap, bahkan sebelum aku bisa masuk ke kamarku. Dengan lemas kujawab “I’m so sorry. I will not call you again. Thankyou”

Menunggu dengan penuh harap Feli segera bangun

Lemas rasanya. Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain menunggu. Dalam penantianku menunggu Feli terbangun, tiba-tiba ada seorang pria 30an tahun menghampiriku. Awalnya dia hanya bertanya sadang apa aku berdiri sendirian, kukatakan aku menunggu temanku yang tertidur di dalam. Kuharap dia hanya sekedar lewat dan segera pergi, namun ternyata tidak. Dia mulai menceritakan tentang dirinya yang berasal dari Maroko, dia juga seorang imigran di Italy, dan dia bahkan menawariku rokok. Oh damn, aku tak tahu apa maunya, selama dia tidak macam-macam. Tapi aku berharap dia segera pergi, aku tidak nyaman dengannya. Dia bilang dia akan menemaniku hingga temanku bangun. Aku benar-benar tak tahu aspa yang sebaiknya kulakukan, hingga akhirnya, pintu lobby apartemen terbuka. Seorang pria beserta anjingnya yang sepertinya hendak jalan-jalan, keluar dari balik pintu yang terbuka. Aku segera masuk ke dalam lobby sebelum pintu itu menutup secara otomatis. Kuucapkan selamat tinggal pada pria Maroko itu. Aku “selamat”.

Di lobby, kembali aku seorang diri. Tak ada siapapun. Meski tanpa pemanas, tapi setidaknya aku ada di dalam ruangan, angin malam tak bisa masuk. Tapi tetap saja, rasanya aku sudah lemas sekali. Kakiku sudah tak kuat berdiri, Feli juga masih tak ada kabar. Kupergi ke pojok ruangan, kugelar pamphlet panduan wisata di Italy yang kuambil di stasiun tadi, aku duduk menunduk. Lebih baik aku tidur disini, aku sudah tak sanggup lagi. Entah berapa lama aku tertidur, ketika kubuka mata, kulihat rumput hijau di taman sebelah lobby mulai terlihat. Kutegakkan kakiku, kembali kucek handphoneku. Masih belum diread padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4.30. Seingatku Feli adalah salah satu teman yang memiliki jam tidur terbalik. Dia lebih sering melek pada malam hari dari daripada siang hari. Dia biasa bangun ketika jam makan siang telah lewat, dan kembali tidur ketika matahari hendak terbit. Tapi kenapa, tidak untuk kali ini. Mungkin dia masih jetlag, mengingat perbedaan waktu antara Jepang dan Italy adalah 8 jam.

Seorang pria paruh baya sambil menggeret kopernya tiba-tiba menyapaku. “Buon giorno” katanya sambil tersenyum. Kubalas sapaanya dengan tersenyum, meski aku tahu bentukku sudah sangat awut-awutan. Tak berapa lama ada orang lain lagi yang melewatiku, dan dia juga menyapaku. Akh, setidaknya senyuman mereka cukup memberikanku semangat untuk lebih bersabar lagi menunggu Feli bangun. Benar saja, akhirnya penantiankupun berakhir. Feli bangun! Dia membalas pesanku. Tak berapa lama sambil berlari kecil Feli muncul dengan wajah awut-awutan. Aku tahu perasaanya, dan akupun sudah terlalu lelah untuk bertanya. Ingin marah, tapi sudah tak ada tenaga. Kucoba untuk tetap biasa. Sambil memanduku menuju kamar kami, dia meminta maaf. Kuceritakan sedikit apa yang sudah kualami semalaman, dan dia nampak semakin merasa bersalah.

Kasur. Cuma itu yang aku cari. Tak banyak tanya tak banyak omong, aku langsung melepas coatku, tanpa berganti pakaian, kulempar tubuhku ke dalam kasur yang hangat. 17 jam duduk di pesawat, 5 jam berdiri dengan penuh penantian, tak ada lagi yang aku inginkan selain kasur. Aku ingin meluruskan seluruh tulangku yang rasanya remuk ini. Aku ingin memulihkan tenagaku yang tinggal 1% ini. Aku terlelap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s