Kaiseki Ryouri

Jika kalian diminta untuk menyebutkan beberapa makanan Jepang, pasti sebagian besar dari kalian akan menjawab ramen, tempura, takoyaki, udon, soba, yakitori, dan sederet makanan Jepang lainnya yang sering kita lihat di mall-mall Indonesia. Meskipun dulu saya kuliah di jurusan bahasa Jepang, jujur saya bukanlah penggemar anime, manga, ataupun games. Saya hanya mahasiswa biasa, bukan maniak apalagi otaku. Satu-satunya masakan Jepang yang pernah saya makan selama tinggal di Jogja hanyalah ramen. Itupun ramen yang kata orang rasanya abal-abal, alias lebih mirip kuah indomie. Saya memilih jurusan bahasa Jepang karena menurut saya belajar bahasa asing itu menarik, dan jika saya bisa bahasa asing selain Inggris, itu akan membuat saya merasa sedikit keren, hehe.

Hattori Nutrition College, begitu nama yang tertulis di halaman pengumuman calon penerima beasiswa Monbukagakusho tahun 2014. Saya tidak pernah benar-benar tahu maupun mencoba mencari tahu seperti apa calon sekolah saya ini hingga saya diterima sebagai murid baru tahun 2015.

img_3352

Menjadi chef handal di masa depan, kurasa inilah alasan kenapa kami berada di sekolah ini. Seorang senpai pernah berkata “Dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang, lihat saja siapa yang masih akan bertahan di dunia permasakan ini. 10% saja itu sudah bagus”. Anggap saja dalam kelasku ada 48 orang, itu berarti hanya ada sekitar 5 orang yang akan menjadi chef. Waktu itu saya masih ngeyel, masa iya sih cuma sisa segitu. Barulah kutahu jawabannya saat kami memasuki semester kedua. Jumlah kami berkurang 4 orang! Mereka mengundurkan diri, tak sanggup lagi meneruskan katanya. Waow, ada yah yang kayak begitu. Padahal menurut saya sekolah itu menyenangkan, yah meskipun sometimes sedikit membosankan karena terlalu banyak teori dibandingkan dengan prakteknya.

Hingga satu tahun pertama tinggal disini, saya masih belum bisa menemukan dimana enaknya masakan Jepang. Bagi saya, masakan Jepang itu kurang nendang. Hingga suatu saat pikiran saya benar-benar berubah ketika saya bertemu dengan kaiseki ryouri. Dan inilah yang menjadi salah satu alasan saya mengambil japanese food atau yang biasa kami sebut dengan washoku, sebagai speciality saya di tahun kedua. Kaiseki ryouri mengubah pandangan saya tentang masakan Jepang. Kaiseki ryouri adalah masakan tradisional Jepang yang disajikan dengan sistem course atau sepaket yang terdiri dari sakidzuke atau makanan pembuka, suimono atau sup bening, mukoudzuke bisa berupa sashimi atau salad, nimono atau masakan yang dimasak dengan cara direbus dalam waktu lama, yakimono berupa daging atau ikan yang dipanggang, agemono berupa tempura, mushimono atau chawanmushi (campuran telur dan dashi yang dimasak dengan cara dikukus), gohan berupa nasi biasanya disajikan bersama sup miso, dan yang terakhir adalah suimono berupa makanan penutup seperti potongan buah. Salah satu hal yang menjadi ciri khas dari kaiseki ryouri adalah penggunaan bahan yang disesuaikan dengan musim. Kita semua tahu kalau Jepang memiliki 4 musim, dan dari setiap musim tersebut bahan masakan yang mereka pakaipun berubah mengikuti musim tersebut. Bagi masyarakat Jepang, makan sudah menjadi bagian dari budaya. Seperti contoh, ketika musim panas tiba, kebanyakan orang Jepang akan pergi ke restauran unagi (belut) karena unagi dipercaya dapat memberikan stamina lebih agar tidak mudah lelah ketika musim panas tiba.

Oktober 2015, kami semua pergi ke Tsukiji Jisaku untuk menikmati kaiseki ryouri untuk yang pertama kalinya. Saya seketika langsung terpana ketika saya tiba di pintu depan restaurant tersebut. Saya langsung disambut oleh dua orang penjemput tamu, layaknya petugas hotel. Tidak sampai disitu, ketika saya sampai di bagian semacam lobby, dua orang wanita mengenakan kimono langsung tersenyum menyambut saya lalu mengantar saya hingga ke ruang tengah dimana jamuan makan akan diselenggarakan. Saya yang biasa cuma makan bentou,mentok-mentok di familiy resto, tentu saja merasa grogi ketika diperlakukan seperti ini. Jika kalian pernah menonton film Geisha, kira-kira begitulah tempat saya menikmati kaiseki ryouri sekarang ini. Di atas tatami, kami duduk berjejer dengan meja masing-masing. Nakamisan, panggilan untuk orang yang bertugas menyajikan makanan, berjalan dengan cepat dan cekatan membawa nampan berisi minuman. Sesungguhnya, kaiseki ryouri ini biasa disajikan bersamaan dengan sake, namun karena kami semua masih sekolah, maka sake tersebut diganti dengan air putih biasa. Tidak sembarang orang bisa melakukan pekerjaan seperti nakamisan ini. Mereka harus melewati serangkaian latihan bagaimana cara menyajikan makanan dengan baik dan benar tanpa kesalahan. Tak berapa lama sesudah itu, jamuan yang sesungguhnyapun dimulai.


Kesan pertama saya ketika melihat kaiseki ryouri adalah kok sedikit sekali porsinya. Mana kenyang kalau begini, begitu pikir saya waktu itu. Namun ternyata saya salah. Meskipun nampak sedikit, ketika sampai pada urutan yakimono, perut saya sudah mulai terasa penuh. Lalu ketika nasi sudah dihidangkan, disitu saya benar-benar merasa kenyang. Bersyukur, saya masih bisa menghabiskan makanan penutup saya yang merupakan bagian terbaiknya, karena saya sangat suka cherry, hehe.

 

Untuk harga satu porsi kaiseki ryouri ini tergolong cukup mahal. Sekitar lima belas hingga dua puluh ribuan yen atau sekitar dua hingga tiga juta rupiah. Tapi percayalah ini sangat sebanding degan harga yang kita bayar. Istilahnya ono rego ono rupo. Dan belakangan saya tahu kenapa harga kaiseki ryouri ini begitu mahal. Di tahun kedua belajar di sekolah ini, saya sengaja mengambil praktek kerja sekolah di restoran ini karena saya penasaran kenapa sih ini bisa enak. Dan saya juga ingin tahu orang-orang seperti apa yang bisa membuat makanan seindah ini. Ternyata memang tidak sembarangan orang bisa mengerjakan pekerjaan ini. Kesimpulan yang bisa saya ambil dari pengalaman saya selama satu bulan magang di restoran ini adalah “Kalau tidak punya nyali dan kemampuan survive yang kuat, jangan pernah mencoba untuk bekerja di industri ini”. Jika kalian pernah melihat acara televis milik Gordon Ramsay, Hell’s Kitchen kira-kira seperti itulah suasana dapur di restoran ini. Dimarahi, dibentak, dimaki-maki hanya karena sebuah kesalahan kecil, sudah menjadi makanan sehari-hari kami. Saya bahkan pernah dimarahi hanya karena sepatu saya tidak sengaja menginjak lem dan sedikit mengotori lantai!. Satu pengalaman yang paling saya ingat ketika saya magang disini adalah saya disuruh mengupas kentang lalu membentuknya menjadi bentuk segi enam. Jumlah kentang yang saya kupas tidak tanggung-tanggung, satu drum!. Dan pekerjaan ini berhasil saya kerjakan selama 5 jam nonstop. Pisau saya bahkan sampai berubah warna menjadi coklat karena terkena getah kentang. Ternyata dibalik sajian makanan yang begitu indah dan nikmat ini, ada penderitaan tak terlihat yang dialami si pembuat. Ckckck.

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s