Tahun ke 14

Dan akhirnya, hari inipun kembali tiba. Kau yang masih saja membuatku penasaran, bertambah usia menjadi sepertiku. Dan tak terasa, ini sudah menginjak tahun yang ke 14.

Teman-temanku berkata bahwa aku ini gila, masih saja mengingat orang dari masa lalu yang bahkan mungkin tak pernah menganggapku ada. Mereka selalu bilang begini “Lupakan saja, lha wong dia aja paling udah lupa sama kamu. Bisa jadi dia sekarang sudah punya pacar atau malah mungkin sudah menikah”. Tapi nyatanya, pernyataan teman-temanku itu selalu kudengar hanya untuk kulupakan saja. Tak semudah itu melupakan cinta pertama. Mereka hanya akan paham jika mereka mengalami apa yang kualami.

Perlakuanmu dulu padaku kuanggap sebagai sesuatu yang kejam dan sangat menyakitkan. Kalau istilah jaman sekarang, apa yang kau lakukan padaku merupakan bagian dari bullying. Mungkin dulu kau juga tak paham dengan apa yang kau lakukan, mengingat kau dan aku masih sama-sama anak kecil. Anak 13 tahun, tahu apa soal perasaan. Mungkin itu hanyalah ungkapan rasa tidak sukamu padaku yang kau ungkapkan dengan cara yang sedikit berlebihan. Apakah kau paham betul apa itu arti belis? Atau kau memang tidak tahu cara pemakaian kata belis dengan tepat? Yang jelas, kata-kata itu sangat menyakitiku. Bersamamu dalam satu kelas selama setahun, rasanya seperti di neraka. Aku tak dapat menikmati hari-hari indahku bersama teman-teman, karena yang kuharapkan saat itu hanyalah segera lulus. Aku ingin penderitaanku segera berakhir.

Tahukah kamu bahwa sampai sekarang aku masih saja berusaha mencari cara agar bisa bertemu denganmu? Aku hanya ingin tahu kabarmu saja. Aku hanya ingin mengobrol berdua denganmu. Aku hanya ingin bertanya apa yang yang sebenarnya kau rasakan saat itu. Kau tidak benar-benar membenciku kan? Tenang saja, aku tidak ada niatan untuk melakukan pembalasan padamu. Atau mungkin kamu malah berpikir kalau aku tergila-gila padamu? Kupastikan tidak. Aku hanya penasaran denganmu. Aku hanya ingin bisa menuntaskan apa yang selama ini mengganjal di hati agar bisa terseleseikan dengan baik. Aku sama sekali tak peduli jika kau mungkin sudah menikah dan punya anak. Aku tidak ingin mengganggu hidupmu, aku hanya ingin menjadi temanmu. Maaf, jika kata teman pun terlalu berlebihan untukmu. Aku hanya ingin bertemu dan bercengkrama denganmu dalam keadaan santai, dan mengingat masa lalu dengan gelak tawa.

Apa pekerjaanmu sekarang? Siapa pacarmu sekarang? Bagaimana kehidupan kampusmu? Dimana kamu tinggal sekarang? Apakah kamu pernah sesekali ke Cilacap? Itu hanyalah sedikit pertanyaan yang ingin kulontarkan padamu. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyukaimu. Yang jelas, ketika pertama kali bertemu denganmu di kelas yang sama, kelas 1A, aku merasa kau adalah orang yang tengil dan menyebalkan.

Kali ini, aku ingin membuat sebuah pengakuan. Semoga kau tidak tertawa atau malah menganggapku memalukan. Kumohon pahamilah kalau aku hanya anak kecil berusia 11 tahun yang baru saja jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Masih ingatkah kau saat kita study tour ke Jakarta? Saat di Dufan, diam-diam aku meminta temanku untuk memotretmu. Tanpa kau sadari tentu saja. Kau memakai kaos putih dan sandal puma saat temanku memotretmu. Temanku memberiku fotomu  beberapa hari sesudah study tour itudan foto itu masih kusimpan hingga sekarang. Aku senang karena akhirnya aku bisa memiliki fotomu, namun aku juga harus menerima kenyataan pahit sesudahnya. Saat berada di Dufan, agaknya kau bertemu dengan seseorang yang menarik hatimu. Kau pacaran dengan gadis dari kelas 2E tak lama sesudah itu.

Aku tak yakin kau mengingat hal ini atau tidak. Namun jika kau dulu pernah mendapat telefon dari seseorang namun tiba-tiba telefon itu mati saat kau mengangkatnya, bisa jadi itu aku. Aku dulu sering iseng menelfon ke rumahmu. Tiap kali kutelfon, pasti ibumu yang mengangkat, kukatakan kalau aku adalah temanmu. Tidak dengan namaku sesungguhnya tentunya. Saat ibumu memintaku untuk menunggu sebentar, cepat-cepat langsung kumatikan telefonku. Aku tak tahu harus berbuat apa jika kau benar-benar mengangkat telefonku. Dan hal itu pernah kulakukan beberapa kali.

Ini hanyalah sedikit kenangan tentang dirimu yang masih kuingat hingga sekarang. Meskipun aku tak tahu kau ada dimana sekarang, tapi aku percaya suatu saat kita akan benar-benar bertemu. Hanya masalah waktu dan kesempatan saja.  Dan hingga saat itu tiba, aku akan terus menulis surat untukmu. Semoga kau tidak menganggapku sebagai wanita aneh.

Happy Birthday Mr.D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s