Pria-pria T*nder

Berbicara mengenai pria, sepertinya akan menjadi obrolan panjang yang tak akan pernah usai. Sudah seperembat abad dan aku masih begini-begini saja. Bahkan emak pun sudah mulai khawatir sepertinya. Emak telefon tiap dua minggu sekali, dan setiap dua minggu itu, dia akan mengakhiri obrolan di telefon dengan pertanyaan “Sudah punya pacar?”

Kalau ditanya berapa banyak pria yang mendekatiku, aku bisa menjawab lumayan. Jika ditanya berapa banyak yang nembak, kujawab beberapa. Lalu, ketika ditanya berapa banyak yang aku iyakan, jawabannya hanya satu orang. Terakhir, jika ditanya pernah jatuh cinta yang benar-benar cinta atau tidak, jawabannya pernah, hanya sekali tapi bukan dengan orang yang aku iyakan itu. Dengan orang ini, perlu bertahun-tahun untuk bisa move on. Padahal, dipacarai saja tidak.

Tapi bukan hal sedih seperti itu yang ingin aku tulis kali ini. Cerita itu sudah ada di beberapa tulisan “menyek” beberapa tahun lalu. Kali ini, aku hanya ingin mencoba mengingat-ingat kegilaan apa yang pernah kulakukan selama proses pencarian the right one.

Tinder. Kalau beberapa waktu lalu pernah heboh ada orang yang ketemu jodoh di Tinder, dan langsung menikah padahal baru 7 hari kenal, tidak dengan ceritaku. Yang terjadi padaku justru sebaliknya, berteman selama 2 tahun lebih, akhirnya malah ditinggal nikah. Aku rapopo. Wes biasa. #nyanyi lagu Terlatih Patah Hati.

Aku tak pernah tahu Tinder itu apa, hingga pada suatu hari yang sedikit dingin di awal bulan November tahun 2015, waktu aku datang ke homecoming party sekolah bahasaku dulu. Lumayan, makan gratis dan bisa bertemu teman-teman lama. Tidak ada hal luar biasa yang terjadi selama acara, kami hanya mengobrol santai satu sama lain. Yang sedikit mengalihkan perhatianku adalah ketika kusadari beberapa dari teman seangkatanku dulu, datang tidak sendirian. Pacar, sepertinya begitu. Hal tersebut tidak membuatku cemburu sama sekali. Yang menarik adalah, ketika seorang teman Indonesia tiba-tiba datang dan bercerita kalau mereka, teman-teman satu angkatanku dulu itu, dapat pacar di Tinder. Kawanku ini koneksinya memang cukup oke. Mulut dan kupingnya sepertinya ada dimana-mana. Dia bisa tahu segala info tak penting, termasuk info pribadi. Singkat cerita, dia berkata begini “Kamu kalau mau cari pacar, coba aja Tinder Tis, siapa tahu nemu yang oke”.

Sebentar lagi libur musim dingin, dan aku belum ada rencana apapun untuk mengisi liburanku, selain memperbanyak jadwal part time. Hmm…Tinder sepertinya menarik. Siapa tahu bisa ketemu orang yang cukup menarik yang bisa diajak hangout bareng, mungkin liburanku akan sedikit lebih berwarna. Hari itu juga, kubuat account Tinder. Aku setting untuk area Tokyo saja, dan tak jauh dari tempatku tinggal. Biar gampang kalau mau ketemu. Selain itu, aku juga setting untuk pria rentang usia 22-30 tahun saja. Aku tak mau jalan sama berondong, tak mau juga sama om-om.

Ternyata Tinder menarik juga. Tinggal swipe ke kanan kalau suka, swipe ke kiri kalau tidak suka. Kalau pihak sana juga suka dengan kita, maka akan muncul notif match. Dari beberapa match inilah, perjalanan mencari cinta pun dimulai. Beberapa orang say hi padakuTujuanku sebenarnya hanyalah mencari teman untuk hangout, selebihnya tak ingin kupikirkan terlalu jauh.

Dari beberapa orang itu, akhirnya tersisa (yang memang niat untuk bertemu dan ngobrol) 5 orang. Namun, hanya 2 orang saja yang akan aku tulis di sini, karena mereka berdua ini memiliki kesan tersendiri untukku. Sebut saja Adi dan Budi. Adi adalah orang Jepang, dan Budi adalah orang Amerika.

Aku mengajak Adi untuk bertemu di Tokyo Tower. Alasannya bukan karena ingin cari tempat yang romantis, melainkan karena aku belum pernah ke Tokyo Tower. Mumpung ada kawan, itu saja alasanku. Pergi dengan Adi, aku merasa seperti pergi dengan salaryman. Dia menemuiku dengan mengenakan jas lengkap. Dia bilang baru pulang kerja. Aneh, padahal ini kan hari sabtu.

Adi pernah tinggal di Indonesia selama 6 bulan. Dia belajar bahasa Indonesia di universitas Darma Persada Jakarta. Alasan dia tertarik belajar bahasa Indonesia adalah di kampusnya dulu dia belajar sejarah Asia, atau semacamnya. Dia bilang dia sangat sangat ingin ke Indonesia. Akhirnya, setelah lulus, dengan uang hasil tabungan dia selama kuliah, dia nekad untuk pergi ke Indonesia. Dia bercerita kalau dia sudah mengalami yang namanya kebanjiran, dan masuk rumah sakit gegara terkena demam berdarah. Dia juga bercerita kalau dia harus naik angkot setiap hari dari kosnya hingga ke kampus. Dia juga bilang dia hidup dengan sangat hemat, tinggal di kosan yang berada di gang sempit, karena uang dia terbatas. Dia sangat suka nasi goreng, soto, gado-gado, dan gorengan. Kata dia murah meriah dan sangat enak. Dia tidak bosan meski memakannya setiap hari.

Mengingat banyaknya kejadian buruk yang dia alami selama di Indonesia, aku menyimpulkan sepertinya dia kapok tinggal di Indonesia. Tidak ada hal menyenangkan yang dia alami selama tinggal 6 bulan di Jakarta. Tapi ternyata dugaanku salah. Dia sangat menyukai Indonesia. Dia bahkan ingin tinggal di Indonesia selamanya. Dia tidak suka Tokyo, dia tidak suka Jepang. Saking cintanya sama Indonesia, dia sampai memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan yang juga memiliki kantor di Indonesia. Tujuannya hanya satu, berharap suatu saat dipindah tugaskan di Indonesia, kalau bisa selamanya dan tak perlu kembali ke Jepang. Orang Jepang yang aneh. Begitu pikirku.

Hal menarik lainnya adalah, Adi ini sudah punya pacar, orang Indonesia yang sekarang tinggal di Jepang. Alasan dia bermain Tinder adalah, dia berharap bertemu orang Indonesia lain di Tinder untuk bisa dia ajak ngobrol dengan bahasa Indonesia. Hah? kok alasannya sangat tidak logis ya. Pacar dia saja orang Indonesia, dia juga pasti punya banyak kenalan orang Indonesia, tapi kenapa dia malah cari-cari di Tinder yang notabene aplikasi buat cari jodoh. Jawaban dia adalah, pacarnya hanya mau ngomong dalam bahasa Jepang dengannya. Tak pernah sekalipun mau diajak bicara dalam bahasa Indonesia. Semakin tidak logis saja alasannya.

Usai dari Tokyo Tower, kami memutuskan untuk makan malam bersama di daerah Ueno. Kami makan di chinese restaurant. Saat sedang menunggu pesanan datang, tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Karena dia meletakkan handphone-nya di atas meja, jadi aku bisa melihat foto profil si penelfon. Seorang wanita. Dia mengambilnya, tapi langsung dimatikan. Kutanya kenapa tak diangkat saja, dia bilang itu dari pacarnya. Dia tak mau ketahuan kalau dia sedang ada di luar, bersama orang lain. Bisa marah katanya.

Malam itu, berakhir dengan cepat. Dia mengantarku hingga stasiun terdekat, lalu say goodbye. Sebelum pulang, dia sempat berpesan begini padaku “Aku tahu Tokyo itu sempit, dan orang Indonesia di Tokyo itu ada banyak. Bisa jadi temenmu adalah teman dia juga. Please jangan cerita soal ini ke siapa pun. Oke?” Lha……tipikal suami takut istri ternyata #tepokjidat. Setelah itu, kami tidak pernah bertemu lagi.

Berbeda dengan Adi, Budi ini orang Amerika tulen, latinos yang tinggal di San Diego, tidak pernah ke Jepang, apalagi tinggal di Jepang. Entah kenapa dia bisa nyasar di Tinder Jepang. Padahal sudah ku-setting untuk area Tokyo saja. Dia hendak liburan ke Jepang akhir tahun ini, seorang diri. Jadi dia mencari teman di Tinder, orang lokal yang mungkin bisa membantunya untuk berkeliling Jepang. Bukan seorang guide yang dia cari. Tapi memang dia berniat mencari teman di Tokyo. Dia akan berada di Jepang selama sekitar sepuluh hari. Tujuan pertamanya adalah daerah Kansai, yaitu Kyoto dan sekiranya. Selama di Kyoto, dia akan pergi dengan temannya, orang Jepang yang pernah kuliah di Amerika. Karena temannya ini tidak bisa menemani Budi selama 10 hari full, makanya dia mencari teman di Tinder. Tampaknya dia takut kalau kesasar sendirian di negara yang bahasanya tidak dia pahami sama sekali.

Kami janjian untuk bertemu di stasiun Shinjuku, south exit. Seperti yang sudah kuduga, dia memiliki perawakan yang tinggi. Wajahnya ramah, dan dia cukup murah senyum. Dia sopan, dan aktif mengajakku bicara, tapi tidak sampai level cerewet. Seperlunya saja. Dia dua tahun lebih tua dariku, jadi kami cukup nyambung saat ngobrol.

Malam itu, kuajak dia untuk ngobrol santai di Italian cafe tak jauh dari stasiun. Di sana dia bercerita banyak hal, tentang alasan dia ke Jepang. Dia seorang engineer yang bekerja di sebuah perusahaan pembuat chip untuk smartphone. Dia sudah bekerja selama satu tahun di perusahaan ini sehingga dia ingin menggunakan jatah cutinya untuk berlibur ke sebuah tempat yang benar-benar asing baginya. Ketika kutanya kenapa sendirian, dia jawab karena teman-temannya lebih memilih berlibur ke Thailand, yang lebih hangat dan mereka lebih bebas untuk party. Budi tidak ingin party, dia ingin kabur ke tempat yang sedikit sepi sehingga dipilihlah Jepang.

Besoknya, aku menemaninya jalan-jalan keliling Tokyo. Aku mengajaknya berkeliling Asakusa, lalu dilanjut ke Sky Tree. Di Sky Tree, dia berharap bisa naik ke atas. Namun, apalah daya kami datang terlalu sore. Ini sudah mendekati akhir tahun, banyak turis lokal maupun internasional yang datang ke sini untuk naik ke Sky Tree. Kami kehabisan tiket. Antrian yang begitu mengular adalah orang-orang yang sudah membeli tiket, dan tinggal menunggu giliran untuk naik ke atas.

Namun, Budi sepertinya sangat ingin naik ke atas. Saat kuajak dia untuk mencari makan saja di food court lantai 3, dia malah mengajakku ke tempat lain. Oke, mungkin karena makanan di food court tidak ada yang membuatnya tertarik, atau karena suasana food court yang terlalu ramai. Dia mengecek denah seluruh lantai Sky Tree ini sebentar, lalu mengajakku ke area bawah, melewati jalan yang nyambung ke gedung sebelah Sky Tree. Barulah kutahu, dia ingin makan di tempat yang tinggi. Dia mengajakku ke area restoran di lantai 30, gedung yang berada tepat di samping Sky Tree. Dipilihlah sebuah lounge dengan suasana yang begitu tenang, sedikit remang sehingga terkesan romantis. Melihat suasananya, aku tidak heran jika lebih banyak meja dengan 2 kursi ketimbang meja dengan beberapa kursi. Kami mendapatkan tempat yang kurang strategis untuk melihat pemandangan, karena tidak berada di sebelah kaca persis. Tapi untungnya, posisi ini menghadap langsung ke Sky Tree yang bercahaya diterangi lampu kerlap-kerlip berwarna ungu yang begitu indah sehingga pemandangannya cukup oke. Meski baru mengenalnya, aku sebagai cewek jomblo, diajak ke tempat seperti ini jadi rodo piyeee ngono. Owh, bule tuh begini……

Karena restoran tempatku part time juga tutup selama beberapa hari karena libur akhir tahun, aku menghabiskan beberapa hari menemaninya jalan-jalan. Kuajak dia berkeliling Akihabara, Shinjuku, Shibuya, Harajuku, Meiji Jingu, dan obyek wisata lainnya, termasuk salah satu tempat favoritku melihat senja, Odaiba. Setiap kawan yang datang ke Tokyo pasti akan kuajak ke Odaiba. Tempat ini memiliki kesan tersendiri untukku.

Sejak hari pertama bertemu, dia tak pernah absen mengirimiku pesan. Saat malam hari, kami melanjutkan obrolan via chat. Berbagai kata manis pun mulai dilontarkannya. Khususnya, di hari terakhir kami bertemu sebelum dia kembali ke Amerika. Aku merasa sedikit bersalah karena sehari sebelum dia kembali ke Amerika, aku sudah terlanjur memasukkan jadwal part time, untuk shift sore hingga malam sehingga aku tak bisa menemaninya jalan di siang hari. Aku merasa perlu untuk mengantarnya pulang, meski tidak harus sampai bandara. Akhirnya, kuputuskan untuk mengajaknya nonton film tengah malam. Kebetulan bioskopnya langsung berada di seberang restoran tempat aku bekerja, 2 menit jalan kaki saja sudah sampai. Film yang kupilih adalah James Bond, karena itu satu-satunya film berbahasa Inggris yang tayang tengah malam. Untuk pertama kalinya dalam hidup, nonton di bioskop dengan jumlah penonton yang bisa dihitung jari. Selama pertunjukan berlangsung, dia sempat menyolek lenganku, lalu tersenyum. Kutanya kenapa, dia hanya menjawab “nothing” sambil tersenyum. Karena aku sedikit merasa awkward, jadi hanya kubalas dengan senyum, lalu kembali fokus ke layar. Saat lampu dinyalakan usai film selesai, kulihat hanya ada beberapa penonton yang kelihatan masih fresh. Sisanya, bisa ditebak kalau mereka tertidur selama film berlangsung. Termasuk mas Amerika ini. Yoweslah……

Pagi itu, di lounge hotel tempat dia menginap, adalah hari terakhir kami bertemu. Libur musim dingin hampir usai, dan aku tahu aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Satu hal yang aku ingat, beberapa saat sebelum dia berangkat ke bandara, dia sempat mengirimku pesan yang mengatakan bahwa dia menyukaiku, dan ingin melanjutkan ini. Pesan puitis nan romantis, pujian dan kalimat-kalimat manis yang semua wanita pasti akan meleleh-leheh kalau membacanya, semuanya dia tulis panjang lebar, sampai detail. Aku tak pernah digombali oleh pria manapun sampai level seperti itu. Cowok bule dan cowok Indonesia teryata memang beda. Pantes kalau cewek-cewek Indonesia banyak yang kepincut sama bule. Mereka pandai ngegombal je, aku wae melting…..

Sejak hari itu, kami terus saling berkirim pesan. Tidak setiap hari, tapi pasti ada seminggu satu atau dua kali kami saling sapa. Saat winter di tahun berikutnya, aku mengajaknya untuk traveling bareng, karena aku akan menghabiskan waktu akhir tahun di Italia, dan aku belum ada kawan yang bisa kuajak menemaniku jalan. Sayangnya, dia berencana akhir tahun mau mudik ke rumah neneknya di Puerto Rico sana. Yasudah, itu pilihannya.

Eh, tak tahunya tak lama sesudah itu, sekitar akhir November dia mengirimiku sebuah foto. Dia bilang dia sedang ada di Roma. What? Kata dia ini rencana tak terduga, libur hari thanksgiving. Kutanya pergi dengan siapa, dia jawab teman. Beberapa bulan kemudian, dia tetiba curhat kalau dia baru saja putus dengan pacarnya yang sudah dia pacari selama satu tahun. Kesimpulannya adalah, selama dia pacaran, selama itu juga dia tetap chatting denganku, bahkan sesekali masih saja ngegombal. Shit!

Cukup tahu lah. Ternyata selama ini saya cuma dijadikan teman sampingan. Untung dulu kujawab tidak. Lha wong kenal aja baru beberapa hari, belum masalah jarak, rumah jauh-jauhan, di sana malam di sini pagi, opo yo ga berabe kalau pacaran dengan kondisi begitu. Setelah kejadian itu, kami memang masih saling bertegur sapa di Line, namun aku sudah tidak berharap sama sekali.

Benar saja, beberapa bulan belakangan ini dia mulai jarang mengirimiku pesan. Ketika kutanya, dia mengaku kalau dia sudah punya pacar. Akhir tahun lalu, dia datang ke Jepang lagi, untuk liburan bersama pacarnya. Dan dia bilang begini “Aku harap kita bisa ketemu dan jalan bertiga”. Mbahmu! Untung akhir tahun lalu aku mudik Indo karena nikahan kakak, jadi bisa ada alasan logis untuk menolaknya.

Dan beberapa minggu lalu, kulihat dia meng-upload foto di fb dengan judul “engagement surprise“. Begitulah akhir kisah cintaku dengan pria Tinder. Kesimpulannya, Tinder itu hanya untuk pacaran lokal saja, tak usah sampai interlokal apalagi internasional. Selamat untuk kalian berdua, aku turut bahagia (T.T)

3 Comments Add yours

  1. Titis salam kenal ya. Perdana main ke blogmu. Kubaca postingan ini dari awal sampai akhir. Semoga diberi kesabaran dan cepat mendapatkan jodoh ya. Soal Tinder ini aku cuma pernah baca-baca aja dari internet, tapi ya gak pernah nyobain cara kerja aplikasinya. Memang rezeki2an kayaknya ya, ada yang beneran dapat jodoh dari Tinder, ada pula yang sebaliknya. 🙂

    1. supersummit says:

      Halo mbak Imelda, terimakasih karena sudah mampir ke blog saya 🙂
      Saya msh blm smpe level desperate kok, msh ckp selow, wkkk
      Nanti jg akan ada saat yg tepat 😁

      1. Iya betul Tis….semua pasti ada waktunya kok. Percaya selalu sama jalannya Tuhan aja ya Tis 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s