Tahun ke 16

Hey, kamu yang entah ada di mana sekarang, apa kabar? Sampai detik ini, sesungguhnya aku masih sedikit tak percaya, bagaimana mungkin aku masih saja menulis ini untukmu. Ini sudah tahun ke-16! Time flies sooooo fast :D. Kali ini, aku ingin sedikit berbagi cerita denganmu. Ini sedikit panjang, kuharap kau tidak bosan saat membacanya.

Kau adalah cinta pertamaku, dan dari kau juga aku merasakan yang namanya patah hati untuk pertama kalinya. Kau menolakku mentah-mentah, bahkan membenciku hingga hari terakhir kita menyelesaikan sekolah. Lalu, cinta keduaku adalah saat aku kuliah di tahun kedua. Aku bertemu seseorang yang membuatku jatuh cinta bahkan hingga terlalu dalam. Dengan yang kedua ini pun aku gagal. Dia bilang suka, tapi nyatanya tak mau pacaran. Beda iman dan ngga mau LDR katanya. Dengan yang kedua ini, butuh bertahun-tahun sampai aku bisa benar-benar melupakannya. Tepatnya menjelang ulang tahunku yang ke 27 kemarin. Total hampir sembilan tahun baru aku bisa benar-benar selesai dengannya! Kau ingin tahu alasan apa yang membuatku akhirnya bisa lulus ujian move on ini? Gegara ilmu cocoklogi!

Yes, ilmu cocoklogi yang aku coba pas-paskan. Dimulai dari tanggal ulang tahunmu, yaitu tanggal 27. Lalu tanggal ulang tahunnya, yaitu tanggal 20, dan terakhir adalah tanggal ulang tahunku sendiri, yaitu tanggal 7. Dan tahun ini adalah hari ulang tahunku yang ke 27. So, what do you think?

Dari angka-angka inilah yang akhirnya membuatku sadar, walah ternyata sudah selama itu, ya. Wes lah ngga usah bertanya-tanya lagi, ngga usah penasaran lagi, aku sudah tua je. Dia sudah mau nikah juga, kenapa juga masih harus dipikirin. Tak usah lagi membayangkan bakal ketemu dia, meski jika itu adalah salah satu permintaanya. Tak usah lagi percaya kata-katanya yang katanya mau minta maaf secara langsung. Sudahlah, tidak ada manfaatnya juga kalaupun ketemu. Dia sudah bahagia dengan dirinya sendiri, dan aku pun sudah bahagia dengan hidupku sekarang. I’m totally done with him.

Kau tahu, apa yang kulakukan untuk menghadiahi diriku sendiri karena berhasil selesai dengannya? Melakukan blind date! Tak ada sama sekali tujuan untuk mencari suami. Aku hanya ingin membahagiakan diriku sendiri dengan bertemu orang baru. Kurasa itu akan menyenangkan!

Jika kau pernah dengar aplikasi untuk dating yang bernama *inder, itulah aplikasi yang aku gunakan untuk “mencari” seseorang. Sebenarnya, ini bukan kali pertama aku menggunakannya. Sekitar 4 tahun yang lalu, aku pernah menggunakannya hanya untuk iseng saja karena ada teman yang merekomendasikannya.  Aku bertemu dengan beberapa pria, tapi semuanya berakhir begitu saja. Yah, hanya bertemu satu atau dua kali saja, lalu semuanya menghilang macam ditelan bumi. Eh, ngga semua ding, kecuali si mas Amerika. Aku bahkan masih sedikit tak percaya, bagaimana mungkin kami masih berteman hingga sekarang. Padahal dulu kami hanya bertemu sekitar semingguan saat dia datang ke Jepang hanya untuk liburan. Tak dinyana tak disangka kami masih terus berhubungan bahkan menjadi teman akrab hingga sekarang. Hampir tiap weekend pasti ada chat darinya. Dia bahkan selalu menanyakan keadaanku jika terjadi sesuatu yang buruk di Jepang, seperti gempa, taifu, atau bencana lainnya. Sekarang dia sudah menikah. Jadi, we’re literally just friends. :p

Kalau dulu di kolom profil aku hanya menulis soal hal-hal basic seperti hobi dll, kali ini aku memutuskan untuk sedikit menuliskan sesuatu yang lebih spesifik. Ku tulis kalau aku mencari teman untuk menonton film Aladdin. Kenapa film Aladdin? Alasannya hanya satu, 7 Juni adalah penayangan perdana film Aladdin di Jepang. Tanggal yang sama dengan hari ulang tahunku, dan hari itu adalah hari Jumat. Menonton salah satu film favorit di akhir pekan bersama orang baru, kurasa itu bisa jadi hari yang menyenangkan untuk sebuah blind date, kan? 😉

Aku menulis hal tersebut di profilku sekitar tiga minggu sebelum hari ulang tahunku. Di awal-awal, ada cukup banyak yang match, tetapi tak satu pun dari mereka yang menyapaku duluan. Kubiarkan saja. Aku hanya ingin bertemu dengan orang yang memang bisa bertemu, yang tak hanya sekedar nyepik. Mendekati akhir bulan Mei, akhirnya ada seseorang yang menyapaku. Pertanyaan pertamanya adalah “Masih cari partner nonton?” Yes, akhirnya ada yang nyangkut!

Di chat, kami tak saling banyak bicara saat itu. Yah, hanya sekedar pertanyaan standar seperti asal dan tujuan datang je Jepang, sudah berapa lama di Jepang, dll. Dilihat dari caranya menulis chat, kurasa dia tipe orang yang mudah bosan denga basa-basi standar. Setelah segala pertanyaan standar tersebut terjawab, ya sudah semuanya selesai. Dia baru menge-chat ku kembali sekitar seminggu sebelum ulang tahunku. Dia memastikan kembali apakah kita jadi nonton atau tidak. Saat itulah, kami berpindah menggunakan aplikasi yang lebih pribadi, yaitu Line.

Singkat cerita, apa yang menjadi tujuan utamaku pun tercapai. Nonton Aladdin sambil dating! Tidak ada yang spesial dari pertemuan kami hari itu. Kami juga tak punya kesempatan untuk ngobrol lebih banyak karena setibanya di bioskop kami langsung antri membeli popcorn, lalu masuk ke studio. Selesai nonton, sebenarnya kami berniat untuk ngobrol sambil makan di sebuah restoran Thailand. Namun sayangnya, restoran tersebut sudah penuh, begitu juga dengan restoran maupun kafe-kafe lainnya di sekitar situ. Bagaimana tidak, ini sudah jam sembilan malam, dan ini hari Jumat. Waktunya para salaryman dan salarywomen nongkrong-nongkrong sepulang kerja. Tak menemukan  tempat, apa boleh buat, kami memutuskan untuk ngobrol sambil berjalan menuju stasiun.

Kurasa dia adalah tipe orang yang tidak terlalu banyak bicara. Pembawaanya tenang, tidak ada kesan yang menonjol, semuanya tampak normal. Meski aksen Jerman-nya cukup kental, aku merasa nyambung bicara dengannya. Sesampainya di stasiun, kukatakan terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk nonton denganku. (Dia tidak tahu kalau itu hari ulang tahunku). Sebelum kami berpisah, dia berkata “Aku senang bertemu denganmu, kuharap kita bisa bertemu kembali”. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Kami berpelukan ringan, lalu berpisah.

Sesampainya di rumah, aku mendapat sedikit kejutan dari roommate-ku. Dia memberikanku sebuah hadiah dan sepotong kue ulang tahun untukku. Hmm…muncul sebuah ide. Kurasa ini bisa jadi chance yang bagus untuk memberitahunya kalau ini adalah hari ulang tahunku dengan cara yang lebih smooth. Kukirimkan foto kue tersebut padanya, yang langsung ditanggapinya.

“I got some suprises from my roommate”

“Is it your birthday?”

“Hehehe” jawabku dengan emoticon nyengir.

“You should have told me lol”

“I thought it might be awkward”

“Haha okay I would have done the same thing in your position”

“Today was the premier of the Aladdin movie and also my birthday at the same time. I wrote it on my *inder profile.

“Ah, really? Let me check”

“I deleted it”

“Well, now I owe you. Let’s go to that Thai restaurant together”

“Hehehe. Ok”

Setelah itu, sesungguhnya aku cukup berharap dia akan menghubungiku lagi untuk menentukan tanggal kapan kita akan pergi ke restoran tersebut. Namun sayangnya, tak pernah ada lagi kabar darinya setelah malam itu. Well, dari situ aku menyimpulkan mungkin dia sama saja seperti yang sebelum-sebelumnya. Hanya sekedar nyepik agar terlihat nice dan sopan. Sedikit kecewa? Yup. Tapi aku sudah biasa dengan hal ini. Kuasumsikan dia sudah menghilang.

Namun, sekitar satu setengah bulan kemudian, tepatnya tanggal 20 Juli ada sebuat chat masuk darinya.

“Hei, aku masih utang janji makan sama kamu. Kamu masih tertarik?”

Setelah sebulan lebih menghilang, sekarang tiba-tiba dia menghubungiku kembali…hmmm mungkin dia punya alasan tertentu? Meski sedikit ragu, aku iyakan saja ajakannya.

Dua hari kemudian, akhirnya kami bertemu untuk kedua kalinya. Kulihat dia sudah menunggu di depan gedung tempat restoran Thailand tersebut.

“Hey” aku menyapanya.

“Ah, hey. Happy birthday, sorry telat” sambil menyerahkan sebuah kantong kecil padaku.

“Apa ini? Kau tak perlu repot-repot….”

“Itu cuma cokelat kok” katanya tersenyum.

Malam itu, akhirnya kami punya kesempatan untuk ngobrol lebih banyak setelah kencan pertama kami. Dia orang yang cukup menyenangkan ternyata. Aku menikmati pembicaraan kami malam itu. Sebelum pulang, kusempatkan untuk bertanya satu pertanyaan yang sedikit serius.

“Jadi, kemana saja kamu selama ini? Kenapa baru berkabar setelah lebih dari sebulan?” Aku bisa melihat sedikit ekspresi kaget di wajahnya saat kutanyakan hal ini.

“Sebenarnya ada alasan kenapa aku baru muncul sekarang. Kurasa aku harus jujur padamu, ini tentang dirinya. My ex…”

“Ohhh, ok aku mendengarkan” Aku berusaha menunjukkan ekspresi sebiasa mungkin.

“Tak lama sebelum aku memutuskan ke Jepang untuk mengambil program exchange ini, sebetulnya aku baru saja putus dengan pacarku. Bisa dikatakan, kami putus dengan cara yang tidak terlalu baik. Aku bersamanya sudah  cukup lama, dan aku berniat untuk menikahinya”.

“Owhhh”

“Tapi, ada sesuatu yang kemudian mengurungkan niatku tersebut”.

“Apa itu?”

“Dia mencintai pekerjaannya, dan dia tak ingin punya anak. Kalaupun dia menginginkan anak, dia lebih memilih untuk mengadopsi. Sedangkan aku? Aku tak ingin mengadopsi anak. Aku hanya ingin punya anak dari kami sendiri. Karena kami tak menemukan kesepakatan, dan aku juga harus segera pergi ke Jepang, kami memutuskan untuk berpisah”.

“Ohhh, waow. Setelah sekian lama kalian bersama, dia baru mengatakannya sekarang? That’s must be really hard for you”.

“Lalu, tak berapa lama setelah pertemuan pertama kita, aku mendapat sebuah pesan darinya. Dia memberitahuku kalau dia ingin datang ke Jepang liburan musim panas ini. Dari situ, aku berpikir mungkin saja dia ingin bicara denganku dan menyelesaikan hal ini dengan cara yang lebih baik. Maka dari itu, kuputuskan untuk tidak menghubungimu lagi”. Dia berhenti sejenak.

“Jadi, dia akan datang ke sini?” tanyaku.

“Tidak. Tak lama sesudah itu, dia memberitahuku lagi kalau dia tak jadi datang karena dia tak bisa ambil cuti”

“Ohhh…gitu….jadi sekarang kamu sudah benar-benar selesai dengannya?”

“Ya”

Mendengar ceritanya, aku tak tahu harus berkomentar apa. Aku baru saja mengenalnya, jadi aku tak ingin berasumsi apapun tentangnya. Mantan bukanlah sebuah hal yang baik untuk dibicarakan, apalagi dia belum lama ini mengalaminya. Kuputuskan untuk mengajaknya pulang.

***

Begitulah kisah pertemuan kedua kami. Setelah malam itu, kami semakin sering bertemu. Kami pergi ke beberapa festival, menonton film, dan hal-hal lain yang biasa orang lakukan saat dating. Dia melakukan hal-hal manis yang tak pernah kurasakan sebelumnya. He made me more “alive”.

Kau ingin tahu hal-hal manis apa yang pernah dia lakukan untukku? Aku akan menceritakannya sedikit padamu. *Kumohon jangan tertawakan aku sesudah ini*.

Festival kembang api di musim panas adalah momen tahunan yang banyak dinantikan oleh para kaum muda (read : couple). Mereka akan pergi melihat kembang api dengan mengenakan yukata, melakukan semacam piknik bersama sambil menikmati snacks dan beers. Tapi, kami memilih untuk tidak melakukannya. Nope, that’s not our date style :D. Kami pergi dengan pakaian normal dan santai.

Kami sengaja datang lebih awal agar bisa mendapatkan spot yang nyaman dan strategis untuk melihat kembang api. Beruntung saat itu belum terlalu ramai, jadi kami bisa mendapatkan tempat yang cukup bagus, tepat berada di tengah, dekat dengan pusat peluncuran kembang api. Kami masih memiliki waktu sekitar satu jam sebelum kembang api pertama dinyalakan. Kami menggunakan waktu tersebut dengan makan snacks dan mengobrol sambil menikmati senja. Saat matahari mulai menghilang dan langit berubah menjadi lebih gelap, saat itulah aku bisa merasakan dia mulai memperbaiki posisi duduknya. Dia mendekatkan dirinya padaku. Sangat dekat hingga kaki kami saling bersentuhan.

Aku juga bisa mendengar hembusan nafasnya yang begitu dekat di telingaku. Aku bisa merasakan perubahan degup jantungku yang mulai berubah menjadi lebih kencang dari biasanya. Percampuran antara takut dan tak tahu harus berbuat apa. Apakah dia hendak menciumku? Apakah dia sebenarnya sedang mencoba memberikan kode padaku? Kalau iya, apa yang mestinya aku lakukan? Haruskah aku berbalik badan dan menatapnya? Haruskah aku membalasnya? Disaat seperti ini, sungguh aku berharap aku tidak melakukan hal bodoh yang bisa menunjukkan betapa tak berpengalamannya aku soal ini.

Saat aku masih menimbang-nimbang apa yang mestinya aku lakukan, seketika semuanya buyar saat kembang api pertama tiba-tiba meluncur di atas langit. That’s the most amazing fireworks i’ve ever seen in my life. Big and so beautiful. Setelah beberapa tahun tinggal di sini, akhirnya aku bisa merasakan menonton festival kembang api dengan seseorang. Hari itu, mungkin akan menjadi salah satu hari yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, seseorang menggenggam tanganku erat…

***

Aku hanya ingin berkata, kurasa dia adalah yang ketiga. Setelah bertahun-tahun, akhirnya aku bisa merasakan jatuh cinta lagi. Aku suka ketika dia datang ke kantorku hanya untuk makan siang denganku. Padahal, jarak dari tempat tinggalnya ke kantorku cukup jauh. Hampir satu setengah jam dengan kereta, dan dia hanya punya waktu satu jam untuk bisa makan siang denganku.

Aku suka saat dia dengan sabar menungguku di lobi kantor saat kami punya jadwal kencan di malam hari. Aku suka saat dia pergi membeli kemeja baru dan pergi ke salon untuk merapikan rambutnya, hanya karena aku bilang aku suka pria berpenampilan rapi. Aku suka saat dia berbagi cerita tentang keluarganya. Aku suka saat tak sengaja kulihat kalender handphonenya, ternyata dia memasukkan jadwal liburanku di situ. Aku suka caranya bicara, aku suka caranya mengatakan dia merindukanku. Aku sangat menyukainya….

Namun, ada hal lain yang terjadi setelah itu yang tak ingin kuceritakan padamu. Tidak sekarang, untuk kali ini cukup ini saja. Semoga ceritaku ini bisa menjadi sebuah hiburan untukmu.

Akhir kata, happy birthday Mr. D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s