Mencicip Pasta Asli Buatan Orang Italy

Dengan biaya tambahan yang tidak bisa dikatakan sedikit, akhirnya aku berhasil me-reschedule tiketku. Perjalananku belum selesai sampai di sini. Aku masih harus kembali ke Genoa untuk mengambil barang-barangku. Satu hal yang hampir saja terlupa, jika aku harus stay di sini satu malam lagi, artinya aku harus mencari penginapan untuk bermalam. Belajar dari pengalaman sebelumya, kali ini aku tak ingin ada drama-drama lagi, ini sudah hari terakhir dan aku ingin perjalananku ini berakhir dengan manis #tssah.

Cepat-cepat aku mencari rumah untuk menginap lewat Airbnb lagi. Jika sebelum-sebelumnya aku mencari rumah yang dekat dengan stasiun, kali ini fokusku adalah rumah yang dekat dengan bandara atau rumah dengan akses mudah untuk ke bandara. Kupilih rumah yang tak terlalu jauh dari markas AC Milan, dan tak jauh dari bus stop yang menuju bandara. Jarak dari rumah ini hingga ke bandara hanya sekitar 45 menit dengan menggunakan bus. Mestinya dengan jarak segini cukup aman.

Host ku sedang tidak ada di rumah saat aku sampai di Genoa. Hanya ada anaknya, dan seorang nanny yang menjaganya. Si Mak mungkin sudah sampai di bandara saat ini. Meskipun penerbangannya masih nanti malam, tapi karena tak ada lagi yang bisa dia lakukan di sini, dia memilih untuk menunggu di bandara saja. Ada sedikit rasa sedih karena kami harus berpisah bukan di bandara, tapi malah di Ventimiglia. Well, perjalanan kami selama dua minggu ini menyisakan banyak kenangan dari mulai yang mengesalkan, memalukan, hingga yang menyenangkan tentu saja. Dua bocah desa yang nekat pergi ke Eropa gegara lihat tiket murah. Ini akan menjadi memori yang akan kami kenang sepanjang hidup kami.

Setelah berpamitan, aku pergi meninggalkan Genoa sekitar jam 2 siang. Karena sudah tidak ada lagi yang ingin aku lihat di Italy, aku berjalan menuju stasiun dengan lebih santai. Aku berjalan pelan sambil menikmati setiap sudut kota ini, yang ternyata juga cukup menarik. Sayang, aku menyadarinya justru di hari terakhir saat aku sudah akan meninggalkan Genoa.

Meski di notes tertulis jarak dari stasiun terdekat hingga ke apartemennya hanya sekitar 500 meter, tapi dengan suhu yang sedingin ini rasanya seperti berjalan sepanjang 1 km. Sialnya lagi, Google Maps ku juga sedikit kurang akurat sehingga aku berhenti di posisi yang salah. Aku tiba di depan sebuah pagar besi tinggi, yang menjadi pembatas antara area apartemen dan jalan raya. Aku tidak tahu gedung mana yang menjadi tempat tinggalnya, dan aku tak bisa masuk ke dalam karena ada kode yang mesti dimasukkan untuk membuka gerbang tersebut.

Kucek ulang alamat yang dia tulis, sepertinya sudah tepat. Gedung yang menjadi tempat tinggalnya ada di balik pagar besi ini mestinya. Oke, mungkin ini memang bukan pintu masuknya. Aku kembali berjalan, mencoba mencari pintu masuk lainnya. Mungkin karena masih dalam suasana libur, kondisi jalan di daerah ini pun begitu sepi, tak banyak orang lewat, hanya sesekali ada mobil yang lewat. Di depan sebuah bar kecil yang tak begitu ramai, aku putuskan untuk berhenti di dekat situ, lalu segera menelfon host ku untuk memintanya menjemputku di sini.

Namun, entah kenapa aku tak bisa menghubunginya. Kucoba untuk menge-chat dia, yang langsung dibalasnya. Kukatakan kalau aku tak tahu yang mana gedungnya, dan aku menunggunya di depan sebuah bar kecil. Meski sudah kujelaskan dengan cukup detail, sayangnya dia tak paham dengan penjelasanku karena ternyata dia juga baru pindah ke daerah sini sehingga dia juga tidak tahu dimana tepatnya posisiku berada. Tapi untungnya, dia mau turun ke bawah dan akan berusaha untuk mencariku.

Aku menunggu langsung di depan gerbang, sambil berharap aku menunggu di tempat yang tepat. Benar saja, tak berapa lama muncul seorang pria muda mungkin seusiaku, muncul dan menyapa “Hi, are you Titis?” sambil mengulurkan tangannya. Kujawab ya sambil membalas uluran tangannya. “Oh my God, your hand is so cold” Aku cuma nyengir saja.  Lha mbok pikir, nungguin di luar gini dengan suhu 0 derajat ga adem pow? batinku.

Di depan gerbang tadi mungkin aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena gelap. Saat sudah masuk ke dalam gedung, aku baru sadar kalau ternyata dia cukup ganteng, and he was very nice. Dia bahkan membantuku membawakan koperku meski diawal sudah kukatakan tidak perlu. Biasa aja kali Totos. 

Bentuk apartemen Simone hampir mirip dengan apartemen yang ada di Genoa, simpel dan sangat hommy. Dia sebenarnya tinggal bersama dengan temannya, tapi karena temannya masih mudik, jadi hanya ada dia di rumah ini. Dia lalu menunjukkan tempat tidurku, bukan di dalam kamar melainkan di living room yang ditata menjadi sebuah kamar tidur. Hanya ada tirai tipis yang menjadi pembatas antara tempat tidurku dengan living room.

“Di dekat sini, ada tempat makan ngga? Aku lapar” tanyaku setelah mengucapkan terima kasih karena sudah membawakan koperku.

“Jujur aku sebenarnya tidak terlalu paham daerah sini. Aku belum lama pindah ke sini, dan aku belum pernah mencoba makan di daerah sini. Ada China town, aku pernah ke sana tapi sedikit jauh dari sini. Selain itu, di dekat sini juga ada supermarket, tapi kamu mesti jalan kaki sekitar 500 meter. Dan aku ngga yakin mereka jual makanan jadi”

Dengan cuaca sedingin ini, sebenarnya aku sudah terlalu mager untuk keluar rumah lagi. Tapi, berhubung aku sudah sangat lapar, sepertinya pergi ke supermarket adalah pilihan terbaiknya. Melihatku yang bingung, dan mungkin juga ada campuran sedikit rasa kasihan melihatku yang kedinginan, dia menawariku untuk makan malam bersama karena kebetulan dia juga belum makan.

“I’ll gonna make some pasta. If you want, we can have dinner together”. Wah, kok kamu baik banget mas. Benar-benar tawaran yang menggiurkan.

With a pleasure” jawabku sambil nyengir malu-malu bahagia.

Aku sebenarnya berniat membantunya di dapur, tapi dia tak mengijinkanku. Katanya, aku adalah tamunya jadi tinggal makan saja. Sambil menunggu pastanya matang, dia mengajakku mengobrol berbagai macam hal, salah satunya adalah mengenai makanan dan budaya Italy.

Bagi orang Italy, pasta adalah makanan pokok mereka. “Pasta is our main dish. Usually, we eat pasta with grill fish or steak as the side dishes. We make our pasta sauce by ourself” katanya sambil mengeluarkan sebotol saus pasta buatan dia sendiri. Aku mendengarkannya bercerita tentang berbagai jenis pasta, serta berbagai jenis restoran di Italy. Katanya, hanya orang-orang kaya saja yang makan di ristorante. Orang biasa cukup makan masakan rumah, atau kalau memang mau makan di luar bisa memilih di osteria atau di trattoria jika mau yang sedikit lebih formal. Mereka akan pergi ke ristorante untuk saat-saat tertentu saja. Hmm..dari kemarin berarti aku dan si Mak salah tempat makan. Beberapa kali kami makan di trattoria yang full service. Pantes mahal!

Dari hasil pembicaraan ini, aku bisa mengambil kesimpulan berarti pasta itu sudah menjadi semacam nasi kalau bagi kita orang Indonesia. Di sini pasta adalah makanan pokok, dimana-mana ada, dan murah meriah. Tapi kalau di Jepang dan Indonesia, pasta adalah jenis makanan mahal yang disajikan di restoran fancy. Pasta sebenarnya tak jauh berbeda dengan mie, makanan yang terbuat dari campuran tepung dan air, hanya bentuknya saja yang macam-macam.

Simone membuat spageti dalam porsi yang cukup banyak. Meski awalnya aku sangat lapar, tapi aku sudah tak sanggup lagi menghabiskannya. Bukan karena tidak enak, tapi karena nafsu makanku yang memang sedikit berkurang. Selama dua minggu berada di sini, jujur aku sudah menyerah dengan pasta dan piza. Satu-satunya makanan yang aku inginkan saat ini adalah nasi. Yeah, i love nasi!

Saat makan, aku memang sempat bertanya mengenai jadwal shuttle bus yang menuju bandara besok. Dia memanggilku ke kamarnya sesaat setelah aku selesai mandi. Kulihat dia sedang duduk di atas kasurnya sambil memegang notebook-nya. Dia kemudian menyuruhku duduk di sebelahnya. Wah, awas saja kalau dia berani macam-macam padaku. Pikiranku pun mulai aneh-aneh.

Dia menunjukkan situs yang bisa diakses untuk melihat jadwal shuttle bus bandara. Katanya aku bisa naik yang jam 7.45, itu jam yang sangat aman jika aku ingin sampai di bandara sebelum jam 10. Sejujurnya, aku merasa sedikit tak nyaman karena dia berbicara dengan jarak yang begitu dekat, dan di dalam kamarnya. Setelah mencatat penjelasannya dalam otakku, aku pun langsung mengucapkan terima kasih dan segera meninggalkan kamarnya. Terakhir, tak lupa kukatakan selamat tidur.

Keesokan paginya, di secarik kertas kutulis ucapan terima kasih untuk sambutan hangat dan pasta yang begitu lezat. Semoga kita bisa bertemu lagi suatu saat. Aku pun pergi meninggalkan apartemennya sekitar jam 7.15 pagi.

One Comment Add yours

  1. Sadly, I can’t read the language, but I need to say, the pictures looks amazing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s