Hotel Lusuh

Salah satu alasan kenapa aku ingin ke Italia selain karena masakannya adalah mengenai pantainya yang ku tahu begitu indah. Karena total perjalananku adalah 2 minggu lamanya, aku memutuskan untuk mengunjungi Italia secara keseluruhan, dari ujung utara hingga selatan, ujung barat hingga ke timur. Mumpung ada Eurail Pass juga, jadi harus dipakai semaksimal mungkin.

Pantai yang kupilih untuk kukunjungi adalah Tropea, hasil dari gugling dengan kata kunci best beach in Italy. Aku sudah sangat excited saat melihat begitu indahnya pantai ini, dengan air lautnya yang berwarna biru tosca nan jernih, serta pasir putihnya yang nampak begitu kemilau. Aku ingin berenang di sana! Begitu pikirku saat itu. Kuputuskan untuk pergi kesana setelah tahun baru.

Yang kutahu tentang Tropea adalah kota ini berada di bagian selatan Italia, tak jauh dari pulau Sicilia. Mungkin karena letaknya yang terpencil, atau karena memang sedang ada promo, harga penginapan disana tak begitu mahal. Aku berhasil mendapatkan penginapan dengan harga sekitar 900 ribu rupiah untuk 3 malam, dengan posisi yang tak begitu jauh dari pantai. Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam dengan menggunakan kereta, aku dan si Mak sampai disana sekitar pukul 4 sore. Setibanya di stasiun, jujur aku sedikit kaget karena ternyata Tropea adalah tempat yang begitu terpencil. Kalau boleh aku bandingkan, masih lebih ramai stasiun Jeruklegi dekat rumahku di Cilacap. Stasiun ini begitu kecil, sepi, dan sekelilingnya hanya ada gedung-gedung kecil yang tampak lusuh, dan dikeliling alang-alang yang begitu tinggi. Seriusan, disini letak pantai terbaik di Italia? Kalau dalam bayanganku, mestinya pantainya ramai dengan banyak hotel dan resort  mewah, serta orang berlalu-lalang karena ini musim liburan. Atau mungkin ini yang disebut dengan surga tersembunyi? Tak ada tanda-tanda tempat ini adalah tempat yang dikunjungi banyak orang setiap tahunnya. Ok, aku harap aku tidak salah tempat.

Kuikuti petunjuk yang tertera di Google Map-ku. Casa Calieri nama penginapan kami. Kalau kulihat dari foto yang tertera di internet sih hotelnya tampak bagus, luas, bersih, dengan rata-rata penilaian dari review pengunjung adalah 8,9. Mestinya ini adalah penginapan yang sangat bagus. Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit, kami tiba di depan sebuah gedung tua dan tampak sangat lusuh sebagai titik akhir yang ditunjukkan oleh Google Maps. Rasa takut salah alamat pun semakin besar. Masa iya, ini tempat penginapan kami. Tak seperti hotel sama sekali. Tembok dengan beberapa bagian yang retak, warna cat yang kusam, halaman gedung yang gersang dan tak terawat, serta teras gedung tanpa lampu yang kotor, menambah keyakinanku kalau kami salah alamat. Kami sudah janjian dengan si pemilik penginapan kami akan tiba sekitar pukul 5 sore, dan kami diminta untuk menunggu di depan gedung penginapan. Namun, tak ada siapapun yang menunggu kami. Rumah-rumah di sekitar kami juga tampak sangat lengang. Hanya ada sebuah toko kecil yang tepat berada di seberang gedung, itupun tak tampak si penjaga toko. Aku mencoba menghubungi si pemilik hotel lagi. Tak ada balasan apapun darinya. Kuputuskan untuk menunggu. Mungkin dia terlambat, pikirku saat itu.


Kami menunggu dengan harap-harap cemas, karena jika kami salah tempat, kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Tempat ini terlalu jauh dari Milan! Setengah jam kemudian, datanglah sebuah mobil, berhenti tepat di depan kami. Seorang wanita usia 40-an datang menghampiri kami. “Halo” sapanya. Syukurah, dia adalah si pemilik penginapan. Dia langsung mengajak kami memasuki gedung lusuh yang masih tak bisa kupercaya kalau tempat ini adalah sebuah penginapan. Serius, ini terlalu lusuh untuk dianggap sebagai tempat penginapan. Dia membuka pintu di lantai satu. Aku sudah bersiap-siap untuk ikhlas jika kondisi kamar kami diluar ekspektasi, tidak seperti yang tertera di internet. Ternyata, di balik pintu pertama masih ada pintu yang lain. Setelah pintu pertama dibuka, ada sebuah meja kecil di sebelah pintu kedua. Di atas meja ini ada mesin kopi, cangkir, kopi, teh, gula, dan sebagainya. Lalu, dia membuka pintu kedua, dan wow aku pun terperangah, tak percaya. Inikah hotel kami? Di dalam gedung apartemen yang tampak sangat lusuh dari luarnya, ternyata tersimpan sebuah kamar dengan fasilitas mewah.

Ok, biar aku jelaskan secara detailnya. Kami memesan dua kamar terpisah karena kami pikir kamar kami berukuran  kecil. Namun, setelah itu aku sedikit menyesalinya. Karena kenyataanya satu kamar ini sudah cukup luas untuk kami berdua. Fasilitas yang kami dapatkan bisa kukatakan lebih cocok dikatakan sebagai apartemen tempat tinggal daripada sebagai hotel maupun penginapan. Ada satu kasur ukuran kig bed, dengan side table, meja rias, TV,  lemari pakaian, kulkas kecil, rak sepatu, meja santai  yang di atasnya sudah tersedia satu set roti, butter, dan selai untuk dua orang. Lalu, yang membuatku lebih wah lagi adalah kamar mandinya. Ada toilet dan bath tub yang terpisah, lalu ada ruang ganti juga. Sabun, sampo, handuk, dan peralatan mandi lainnya semuanya juga sudah ada. Secara keseluruhan, ini semua tampak sangat bersih, rapi, sangat modern dan mewah untuk ukuran hotel seharga 300 ribu rupiah semalam di tempat seterpencil ini. Ini jauh diluar dugaan. Pantes ratingnya bagus. Setelah si pemilik hotel pergi, kami berdua pun saling pandang. Tanpa perlu berkata apa-apa kami langsung masuk ke kamar masing-masing. Owh….indahnya liburan…..kami pun leyeh-leyeh di kasur hingga malam tiba.

 

 

2 Comments Add yours

  1. mana foto kamarnya yang cihuy?

    1. supersummit says:

      Tunggu mba. Nanti aku edit lagi. Aku masih ubleg-ubleg. Jangan2 malah kehapus, haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s